No. 12 / 25 / PSHM / Humas
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 3 Juni 2010 memutuskan bahwa BI Rate tetap pada level 6,50%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan terkini dan prospek perekonomian yang secara umum menunjukkan perkembangan yang terus membaik. Dewan Gubernur memandang BI Rate pada level tersebut masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi tahun 2010 dan 2011 sebesar 5%±1%, serta masih kondusif bagi upaya memperkuat proses pemulihan perekonomian. Selain itu, keputusan tersebut juga konsisten dengan upaya menjaga stabilitas keuangan di dalam negeri di tengah meningkatnya risiko ketidakpastian akibat krisis utang yang dialami Yunani dan sejumlah negara di Eropa.
Dewan Gubernur mencatat bahwa proses pemulihan ekonomi global terus berlanjut di tengah krisis yang terjadi di Eropa. Proses pemulihan ekonomi di negara maju terutama Amerika Serikat dan Jepang serta negara emerging market Asia, terutama Cina dan India, tetap membaik. Sejauh ini, belum ada indikasi dampak krisis utang Eropa terhadap prospek permulihan ekonomi global yang masih tetap kuat. Demikian pula dampaknya terhadap perekonomian domestik masih sangat terbatas, karena kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang cukup kuat. Perkembangan dan prospek ekonomi global yang membaik tersebut berdampak positif terhadap kinerja ekspor Indonesia, yang dalam empat bulan pertama tahun 2010 tumbuh cukup tinggi, sehingga nilai ekspor sudah mendekati periode sebelum krisis 2008.
Berbagai indikator mengindikasikan perekonomian domestik terus mengalami perbaikan. Disamping konsumsi swasta yang masih tumbuh tinggi, kinerja ekspor semakin membaik didukung oleh perkembangan ekspor komoditas manufaktur sejalan dengan membaiknya kondisi ekonomi global, terutama di negara maju. Meningkatnya permintaan baik domestik maupun eksternal mendorong peningkatan investasi yang tercermin pada tingginya pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal. Dengan demikian, siklus pemulihan ekonomi domestik yang didukung oleh investasi, disamping oleh konsumsi dan ekspor, menjadi semakin berkembang.
Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap mencatat surplus ditengah masih tingginya risiko di pasar keuangan global. Neraca transaksi berjalan mencatat surplus yang relatif besar dengan nilai ekspor yang lebih besar daripada impor. Sementara itu, surplus neraca transaksi modal dan finansial sedikit menurun akibat arus modal keluar portofolio asing sehubungan dengan sentimen negatif di pasar keuangan global akibat krisis utang Yunani dan kewajiban pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa per 31 Mei 2010 tercatat sebesar 74,6 miliar dolar AS atau setara dengan pembayaran 5,87 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
Di sisi harga, tekanan inflasi sampai dengan bulan Mei 2010 masih terjaga. Indeks harga konsumen (IHK) Mei mencatat inflasi sebesar 0,29% (mtm) atau 4,16% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,15% (mtm) atau 3,91% (yoy). Kenaikan harga pada bulan Mei tersebut terutama didorong oleh inflasi volatile food (khususnya beras dan aneka bumbu-bumbuan) akibat gangguan pasokan dan distribusi. Sementara itu, tekanan inflasi pada kelompok administered prices masih rendah. Demikian juga dengan tekanan inflasi inti (core inflation) yang tercatat masih cukup rendah dan dalam tren menurun sejak awal 2009. Dengan perkembangan tersebut, Dewan Gubernur berpendapat untuk keseluruhan tahun 2010 dan 2011 inflasi akan tetap berada pada kisaran sasarannya sebesar 5%±1%.
Sektor keuangan ditandai oleh stabilitas sistem perbankan yang tetap terjaga dan meningkatnya fungsi intermediasi perbankan. Dewan Gubernur memandang bahwa stabilitas sistem perbankan Indonesia cukup kuat dalam mengantisipasi dampak rambatan krisis utang di Eropa. Hal ini ditunjukkan oleh tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) perbankan yang berdasarkan data terkini mencapai 19,2% dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Peningkatan fungsi intermediasi perbankan tercermin pada angka pertumbuhan kredit yang sampai dengan akhir Mei 2010 tumbuh sebesar 17,6% (yoy). Pertumbuhan kredit ini masih dalam koridor pencapaian rencana pemberian kredit yang tercantum dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) dan sejalan dengan meningkatnya keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek perekonomian yang semakin membaik.
Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) 3 Juni 2010 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di website Bank Indonesia.
Jakarta, 3 Juni 2010
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat
Dyah N.K. Makhijani
Direktur