No.10/ 26 /PSHM/Humas
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini, 5 Juni 2008, memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 8,50%. Kenaikan BI Rate ini ditetapkan setelah mencermati perkembangan terkini baik perekonomian global maupun domestik.
"Masih tingginya harga komoditas energi dan bahan pangan dunia serta dampak kenaikan harga BBM memberikan tekanan pada inflasi di tahun 2008. Bank Indonesia juga melihat bahwa tren peningkatan permintaan domestik turut memberikan tekanan pada inflasi inti. Perkembangan ini mendasari pertimbangan Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate pada bulan ini," demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Boediono
Boediono selanjutnya menyampaikan, "Inflasi pada 2008 kemungkinan akan meningkat pada kisaran 11,5-12,5% (yoy). Namun kami memperkirakan bahwa dengan berbagai kebijakan yang telah dan akan dilakukan, baik oleh Bank Indonesia maupun Pemerintah, inflasi akan kembali mengarah ke satu digit di tahun 2009 pada kisaran 6,5%±1%. Bank Indonesia akan memfokuskan pada upaya meredam dampak tidak langsung dari kenaikan harga BBM dan pangan. Untuk itu, Bank Indonesia akan memanfaatkan secara optimal seluruh piranti moneter yang ada, baik melalui BI Rate, pengendalian volatilitas nilai tukar, penyerapan ekses likuiditas, optimalisasi Operasi Pasar Terbuka (OPT), maupun kebijakan-kebijakan lainnya."
"Selanjutnya, dalam rangka optimalisasi pengendalian OPT, maka terhitung sejak tanggal 9 Juni 2008, Bank Indonesia akan melakukan perubahan sasaran operasional dari suku bunga SBI 1 bulan menjadi suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Dengan perubahan tersebut, Bank Indonesia akan menjaga pergerakan suku bunga PUAB O/N disekitar level BI Rate", demikian tambah Boediono.
"Penerapan inflation targeting framework dalam rejim nilai tukar mengambang bebas akan tetap menjadi pegangan Bank Indonesia. Upaya menjaga volatilitas nilai tukar merupakan unsur penting dari kebijakan tersebut dalam menurunkan tekanan inflasi. Ke depan, Bank Indonesia melihat ruang bagi apresiasi rupiah, sejalan dengan dukungan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)", tambah Boediono.
Inflasi IHK Mei 2008 secara bulanan berada jauh di atas pola historisnya dan meningkat menjadi 1,41% dari 0,57% di bulan sebelumnya. Sementara itu, secara tahunan, inflasi Mei 2008 tercatat sebesar 10,38% atau meningkat signifikan dibanding inflasi tahunan bulan sebelumnya (8,96%). Dengan perkembangan tersebut, inflasi year-to-date sampai dengan bulan Mei 2008 telah mencapai 5,47%. Kenaikan harga BBM bersubsidi di akhir bulan memberi dampak yang signifikan pada peningkatan laju inflasi Mei 2008. Aksi menaikkan harga berbagai komoditas menjelang kenaikan harga BBM berkontribusi terhadap tingginya inflasi Mei 2008. Mengingat bahwa dampak kenaikan BBM diperkirakan belum sepenuhnya terefleksi pada inflasi di bulan Mei 2008 maka tekanan inflasi akibat kenaikan harga BBM diperkirakan masih akan berlanjut kembali di bulan-bulan selanjutnya.
Meski dihadapkan pada tekanan inflasi yang tinggi, Bank Indonesia mencermati bahwa perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2008 yang tumbuh cukup tinggi sebesar 6,3%. Angka pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya investasi nonbangunan. Di sisi lain, kenaikan harga beberapa komoditas pertanian dan barang tambang di pasar internasional memberikan sumbangan pada meningkatnya ekspor. Kenaikan harga tersebut didukung pula oleh permintaan yang masih tinggi dari negara-negara emerging market.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diprakirakan mencatat kinerja yang baik terutama disumbang oleh neraca transaksi berjalan. Surplus transaksi berjalan triwulan II-2008 diperkirakan tetap tinggi mencapai USD 2,6 miliar atau 2,3% dari PDB. Untuk keseluruhan tahun 2008, Bank Indonesia memprakirakan Neraca Pembayaran Indonesia berpotensi lebih baik dari perkiraan semula. Faktor tingginya harga komoditas internasional masih mendukung kinerja ekspor. Masih kuatnya kinerja NPI mengindikasikan bahwa perekonomian kita memiliki ketahanan dan selanjutnya akan berdampak positif terhadap kestabilan nilai tukar rupiah. Cadangan devisa sampai dengan akhir Mei 2008, tercatat masih tinggi mencapai USD 57,5 miliar. Sementara nilai tukar rupiah selama bulan mei ini relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Industri perbankan secara umum masih menunjukkan kinerja dan ketahanan yang baik. Pelaksanaan fungsi intermediasi yang terus meningkat sebagian besar didanai dari dana Pihak Ketiga (DPK). Kredit perbankan April 2008 naik Rp 22,9 triliun (2,1%) dari Rp.1.080,1 triliun menjadi Rp.1.103,1 triliun. Secara year-on-year (April 2008 -April 2007), kredit meningkat Rp.247,7 triliun atau sekitar 29%. Sekitar 71% dari total kredit ini dialokasikan kepada kredit modal kerja dan investasi. DPK pada periode yang sama naik 1,1% dari Rp 1.466,2 triliun (Maret 2008) menjadi Rp 1.481,8 triliun (April 2008). Kenaikan kredit yang lebih besar dari kenaikan DPK pada bulan ini menyebabkan rasio LDR perbankan naik dari 73,7% (Maret 2008) dan kembali mencapai level tertinggi 74,4% pada April 2008. Sementara rasio non performing loans (NPL) perbankan baik gross maupun net naik sedikit, dari 4,33% menjadi 4,39%, dan dari 1,78% menjadi 1,83%.
Ke depan, Bank Indonesia akan tetap melaksanakan kebijakan moneter secara konsisten dan terukur untuk mengamankan arah perkembangan inflasi sebagaimana tersebut di atas. Bank Indonesia juga akan selalu berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah dalam menyikapi berbagai dinamika perekonomian dalam dan luar negeri.
Jakarta, 5 Juni 2008
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat
Dyah N.K. Makhijani
Direktur