KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Ruang Media > Siaran Pers
Siaran Pers
Judul Pernyataan Gubernur Bank Indonesia : Bank Indonesia Mempertahankan BI Rate Pada Level 8,25%
Sumber Data Biro Hubungan Masyarakat Tanggal7-08-2007 Hits4805
Contact Biro Humas, Telp : (62-21) 381-7317 Fax : (62-21) 350-1867, E-mail : humasbi@bi.go.id
Lampiran
No.9/ 30 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 8,25%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi terhadap prospek pencapaian inflasi untuk tahun 2007 dan 2008 masing-masing 6±1% dan 5±1% dan perkembangan dan prospek perekonomian nasional.

Secara umum, kondisi perekonomian nasional sampai dengan bulan Juli 2007 menunjukkan terus berlanjutnya ekspansi dengan stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan yang relatif terjaga. Prospek inflasi ke depan masih dalam kisaran yang ditetapkan, walaupun dinamika yang terjadi pada pasar keuangan internasional juga menjadi perhatian Bank Indonesia dalam penetapan kebijakan. Bank Indonesia akan mencermati perkembangan tersebut dan sekaligus mengantisipasi potensi terhadap pencapaian target inflasi dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Perekonomian pada triwulan III-2007 diperkirakan akan tumbuh sebesar 6,2%, yang didukung oleh pertumbuhan ekspor, perbaikan investasi dan konsumsi swasta. Daya beli masyarakat, tingkat keyakinan konsumen dan persepsi positif dari pelaku bisnis terus membaik. Sisi penawaran masih memadai dalam merespon peningkatan sisi permintaan dengan peningkatan kapasitas produksi dan utilisasi kapasitas. Kinerja ekspor masih tumbuh cukup tinggi, terutama didorong oleh kenaikan harga migas dan beberapa komoditas non migas di pasaran dunia. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diperkirakan masih mencatat surplus dengan jumlah cadangan devisa yang semakin meningkat. Sampai dengan akhir Juli, cadangan devisa mencapai USD 51,9 miliar atau setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran Utang Luar Negeri Pemerintah.

Dari sisi perkembangan harga-harga, inflasi IHK dan inti pada bulan Juli masih tetap terkendali dan dalam tren yang menurun, walaupun mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Inflasi IHK dan inti secara tahunan tercatat sebesar masing-masing 6,06% dan 5,75% lebih tinggi dibandingkan 5,77% dan 5,40% pada bulan Juni. Peningkatan inflasi pada bulan Juli dipengaruhi oleh kelompok inflasi harga makanan yang bergejolak (volatile food). Selain itu, meningkatnya inflasi impor, biaya pendidikan, sewa dan kontrak rumah merupakan pendorong meningkatnya inflasi inti.

Perkembangan yang terjadi pada perekonomian global seperti kenaikan harga minyak, meningkatnya inflasi di beberapa negara kawasan, serta memburuknya kondisi pasar surat utang kredit perumahan (subprime mortgage market) di AS mempengaruhi kondisi perekonomian dan pasar keuangan regional, termasuk Indonesia. Perkembangan tersebut telah mengakibatkan tertekannya rupiah pada akhir Juli 2007. Rupiah ditutup pada level Rp9.215 per USD atau melemah 1,99% dari Rp9.035 pada bulan Juni. Namun, secara rata-rata, volatilitas rupiah masih dapat dijaga pada level yang rendah, turun dari 1,36% menjadi 0,47% pada bulan Juli. 

Meski  sempat tertekan oleh perkembangan terakhir pasar keuangan global, IHSG pada akhir Juli ditutup menguat dibanding penutupan Juni 2007. Di sisi lain, adanya kecenderungan penerbitan obligasi swasta baik di pasar global maupun domestik memberikan alternatif sumber pembiayaan bagi perkembangan sektor riil sekaligus pula menunjukkan bahwa secara keseluruhan perekonomian masih memiliki prospek yang baik.

Sementara itu, indikator perbankan terus membaik yang mencerminkan stabilitas sistem keuangan yang tetap kokoh terjaga dan terus menyumbang pada perbaikan di sektor riil. Pertumbuhan kredit selama bulan Juni 2007 meningkat cukup signifikan sebesar Rp. 38,5 triliun atau naik 4,4% dari bulan sebelumnya. Angka ini merupakan angka pertumbuhan tertinggi selama tahun 2007, sehingga secara tahunan kredit perbankan tumbuh 19,4%. Kenaikan jumlah kredit perbankan ini diperkirakan terus berlanjut pada bulan Juli 2007, yang dari data sementara menunjukkan peningkatan sebesar Rp. 10,5 triliun. Selain itu, berlanjutnya implementasi proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan swasta juga akan mendorong percepatan kredit perbankan. Dari sisi kualitas aktiva produktif, rasio NPL perbankan sedikit menurun dari posisi Juni yaitu turun dari 6,7% menjadi 6,4% (gross) atau dari 3,1% menjadi 2,9% (netto).

Bank Indonesia memperkirakan akselerasi pertumbuhan ekonomi masih akan terus berlanjut. Perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 6,2% pada tahun 2007 dan 6,5% pada tahun 2008. Konsumsi swasta, ekspor, dan investasi diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan yang cenderung meningkat. Kemampuan sisi penawaran dalam merespon kenaikan permintaan diperkirakan juga akan membaik. Dengan kondisi tersebut serta nilai tukar yang terjaga, inflasi IHK ke depan diperkirakan masih dalam tren menurun. Proyeksi inflasi IHK 2007 dan 2008 diprakirakan akan berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan.

Bank Indonesia juga terus mewaspadai timbulnya beberapa risiko global yang dapat mempengaruhi kestabilan ekonomi makro dan sektor keuangan. Kondisi struktur aliran modal masuk yang didominasi oleh investasi portfolio berjangka pendek merupakan salah satu hal yang terus dicermati secara seksama.

Bank Indonesia berpandangan bahwa BI Rate pada level 8,25% masih dapat memberikan stimulus lebih lanjut pada perekonomian. Tingkat BI Rate dimaksud dapat memberikan ruang gerak yang besar bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit ke level yang lebih rendah sehingga pembiayaan kepada sektor riil semakin meningkat. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga dapat meminimalkan dampak negatif gejolak yang mungkin timbul terhadap perekonomian domestik.

Ke depan, kebijakan moneter akan tetap diarahkan pada pencapaian sasaran inflasi jangka menengah panjang guna mendukung pembangunan yang berkesinambungan. Untuk itu, evaluasi dan proyeksi terkini kondisi perekonomian serta identifikasi berbagai faktor risiko yang mungkin timbul baik internal maupun eksternal akan menjadi dasar bagi arah kebijakan moneter ke depan.

Di bidang perbankan, upaya peningkatan fungsi intermediasi perbankan dan monitoring implementasi program konsolidasi perbankan akan terus dilanjutkan dan diintensifkan. Dalam waktu dekat, Bank Indonesia akan menerbitkan ketentuan yang terkait dengan kepemilikan obligasi korporasi oleh perbankan dalam rangka mendorong intermediasi perbankan dan financial market deepening. Disamping itu, Bank Indonesia akan terus memelihara koordinasi yang telah berjalan sangat baik dan harmonis dengan Pemerintah dan tetap melaksanakan kebijakan moneter secara terukur dan berhati-hati dengan terus mencermati dinamika yang berkembang baik dalam konteks perekonomian nasional maupun global.

Jakarta, 7 Agustus 2007
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat
 

Budi Mulya
Direktur


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: