KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Ruang Media > Siaran Pers
Siaran Pers
Judul Statemen Gubernur Bank Indonesia : Bank Indonesia Menurunkan BI Rate Sebesar 50 bps Menjadi 11,25%
Sumber Data Biro Hubungan Masyarakat Tanggal5-09-2006 Hits4427
Contact Biro Humas, Telp : (62-21) 381-7317 Fax : (62-21) 350-1867, E-mail : humasbi@bi.go.id
Lampiran
No.8/ 48 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini, 5 September  2006, memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps dari 11,75% menjadi 11,25%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan pembahasan yang mendalam selama dua hari berturut-turut, pada tanggal 4 dan 5  September 2006 yang mengevaluasi kondisi makroekonomi, hasil-hasil berbagai survei ekspektasi konsumen dan produsen, prospek ekonomi moneter dalam dan luar negeri.

Memasuki semester II-2006, indikator ekonomi makro semakin mengkonfirmasi arah perbaikan seperti yang diperkirakan. Hal ini terindikasi dari lebih tingginya angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2006 dan menguatnya optimisme terhadap perbaikan kondisi perekonomian. Optimisme tersebut antara lain tercermin pada membaiknya daya beli masyarakat dan keyakinan konsumen terkait dengan ekspektasi penghasilan.  Hal ini didukung oleh Survei Konsumen yang mengindikasikan peningkatan ekspektasi konsumen akan kondisi ekonomi 6 bulan ke depan, dan berkurangnya pesimisme terhadap kondisi saat ini. Survei Penjualan Eceran juga menunjukkan trend peningkatan penjualan riil.  Di sektor dunia usaha, terdapat indikasi membaiknya optimisme pelaku usaha sebagaimana tercermin pada meningkatnya rencana penyerapan tenaga kerja oleh dunia usaha. Namun demikian, Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan belum adanya  indikasi yang kuat terhadap perbaikan investasi. 

Sementara itu, kestabilan makroekonomi masih tetap terjaga, tercermin dari nilai tukar rupiah yang stabil dengan kecenderungan menguat serta inflasi yang terjaga. Pada Agustus 2006, nilai tukar rata-rata tercatat Rp9.094/USD dan tingkat volatilitas yang menurun.  Dengan perkembangan ini, selama tahun 2006 rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp9.183 atau terapresiasi 5.46% dibanding tahun sebelumnya. Tercapainya stabilitas nilai tukar selama Agustus 2006 terutama ditopang oleh membaiknya indikator makroekonomi, masih menariknya imbal hasil rupiah, terjaganya faktor risiko, serta berkurangnya tekanan kenaikan suku bunga di AS.  Perkembangan positif pada faktor-faktor tersebut, telah menjadi pendorong masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik, meskipun diwarnai terjadinya pergeseran penanaman asing dari SBI ke SUN dan saham.  Dengan perkembangan yang positif ini cadangan devisa meningkat menjadi 42,1 miliar USD.   Kondisi kestabilan makroekonomi juga diperkuat oleh terjaganya inflasi yang masih dalam tren menurun dan pada Agustus 2006 tercatat 0,33% (mtm) atau 14,90% (yoy).  Secara kumulatif inflasi IHK masih cukup rendah yakni baru mencapai 3,67% (ytd).  Sementara itu inflasi inti tercatat sebesar 0,78%(mtm) atau 9,68% (yoy).

Rapat Dewan Gubernur juga menyimpulkan bahwa kebijakan Bank Indonesia menurunkan BI Rate sejauh ini telah direspon positif oleh pelaku ekonomi. Di sektor keuangan, penurunan BI Rate tersebut direspon oleh perbankan dengan menurunkan suku bunga dana dan suku bunga kredit, yang kemudian diikuti dengan meningkatnya penyaluran kredit.  Meskipun dalam bulan Juli 2006 kredit hanya meningkat sebesar Rp 1 triliun, data sementara pertumbuhan kredit bulan Agustus menunjukkan perkiraan di atas Rp 10 triliun.  Di pasar saham, IHSG meningkat didorong oleh arus masuk modal asing yang masih terjadi sejalan dengan persepsi positif dampak penurunan suku bunga terhadap prospek perekonomian. Persepsi tersebut juga terjadi di pasar obligasi pemerintah tercermin pada imbal hasil (yield) SUN yang menurun serta masih tingginya permintaan asing. Kondisi tersebut juga mendorong perkembangan di pasar valas yang tetap stabil. Di sektor riil, penurunan BI Rate telah mendorong semakin kuatnya keyakinan konsumen dan optimisme produsen terhadap perbaikan perekonomian.

Ke depan, berdasarkan perkembangan ekonomi hingga triwulan II-06 yang tumbuh lebih tinggi dari perkiraan semula, Bank Indonesia lebih optimis terhadap prospek PDB pada akhir tahun 2006 dibandingkan proyeksi sebelumnya, terutama jika realisasi pengeluaran modal pemerintah dapat didorong pada tingkat yang lebih optimal. Sejauh ini peningkatan kegiatan perekonomian tersebut belum akan berdampak pada harga-harga karena dapat diimbangi oleh peningkatan di sisi penawaran sehingga inflasi diperkirakan masih sesuai dengan sasarannya di tahun 2006 dan 2007.  Faktor risiko eksternal berupa berlanjutnya kenaikan harga minyak dan pengetatan kebijakan moneter global akan senantiasa menjadi perhatian Bank Indonesia.

Dengan pertimbangan utama pada semakin meningkatnya stabilitas makro, meningkatnya keyakinan Bank Indonesia akan tercapainya sasaran inflasi 2006 sebesar 8±1% dan 2007 sebesar 6±1% serta keyakinan pasar, Rapat Dewan Gubernur hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps dari 11,75% menjadi 11,25%.  Penurunan suku bunga ini diharapkan juga semakin mendorong optimisme di sektor konsumen dan sektor usaha sehingga pada gilirannya dapat mendorong bergeraknya sektor riil tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan. 

Jakarta,  5 September 2006
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat


Budi Mulya
Direktur


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: