KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Ruang Media > Siaran Pers
Siaran Pers
Judul Statement Gubernur Bank Indonesia : "Kebijakan Moneter Masih Cenderung Ketat, BI Rate Dipertahankan Pada Level 12,75%"
Sumber Data Biro Hubungan Masyarakat Tanggal5-04-2006 Hits4986
Contact Biro Humas, Telp : (62-21) 381-7317 Fax : (62-21) 350-1867, E-mail : humasbi@bi.go.id
Lampiran
No.8/ 19 /PSHM/Humas

1.      Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), 5 April 2006, yang mengevaluasi perkembangan perekonomian selama triwulan I-2006, memandang bahwa secara umum perekonomian nasional menunjukkan perkembangan yang membaik.  Perekonomian pada triwulan I-2006 diperkirakan tumbuh 4,58%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan di awal tahun sebesar 4,35% (yoy).  Perkembangan yang lebih positif ini terutama didukung oleh terjaganya kestabilan ekonomi makro, seperti menguatnya nilai tukar, menurunnya  tingkat inflasi, dan surplus neraca pembayaran.   Untuk keseluruhan tahun 2006, Bank Indonesia memandang bahwa optimisme pada perekonomian nasional diperkirakan semakin menguat, terutama didorong oleh kondisi ekonomi global yang lebih kondusif, kinerja neraca pembayaran yang lebih baik, kemampuan stimulus fiskal yang lebih besar dan intensifnya upaya pemerintah memperbaiki iklim investasi. PDB 2006 diperkirakan tumbuh sedikit lebih tinggi sehingga mendekati batas atas kisaran proyeksi 5,0-5,7%.

2.      Dari sisi permintaan, ekspansi yang melambat pada triwulan I-2006 (dibandingkan triwulan sebelumnya) bersumber dari rendahnya pertumbuhan permintaan domestik, sedangkan net ekspor masih cenderung meningkat. Beberapa faktor yang mempengaruhi perlambatan ekspansi permintaan domestik terutama terkait dengan belum membaiknya iklim investasi dan semakin melemahnya daya beli masyarakat sejak akhir tahun 2005. Permintaan domestik yang melambat tersebut menyebabkan lebih rendahnya permintaan impor. Namun, perlambatan konsumsi yang lebih dalam masih dapat dihindari karena peran konsumsi pemerintah yang meningkat cukup tinggi baik dalam bentuk peningkatan gaji PNS maupun menyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kondisi permintaan domestik tersebut berdampak pada semakin terbatasnya peningkatan kapasitas perekonomian. Dari sisi penawaran, sektor ekonomi yang diperkirakan mengalami perlambatan  cukup signifikan adalah sektor industri pengolahan, sektor perdagangan dan sektor transportasi dan komunikasi.

3.      Dari sisi eksternal, kinerja neraca pembayaran pada triwulan I-2006 secara keseluruhan membaik tercermin pada lebih tingginya surplus baik dari neraca transaksi berjalan maupun neraca modal dan finansial. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa meningkat menjadi USD41,1 miliar atau setara 4,5 bulan kebutuhan impor dan pembayaran ULN pemerintah. Namun demikian,  peningkatan surplus NPI tersebut tetap perlu dicermati mengingat surplus pada neraca transaksi berjalan  yang lebih disebabkan oleh melambatnya impor non migas, khususnya impor bahan baku yang selama ini dibutuhkan untuk mendukung ekspor Indonesia, sehingga dikhawatirkan dapat menurunkan kinerja ekspor pada periode selanjutnya. Selain itu, struktur neraca modal dan finansial masih didominasi oleh aliran modal masuk jangka pendek (portfolio investment) yang cenderung sensitif terhadap sentimen sehingga berisiko tinggi untuk terjadinya pembalikan modal.

4.      Kondisi Neraca Pembayaran yang surplus tersebut mendukung penguatan nilai tukar Rupiah pada triwulan I-2006. Nilai tukar Rupiah menguat secara signifikan disertai dengan meningkatnya volatilitas dan mencapai rata-rata sebesar Rp 9.299 per dolar AS atau terapresiasi sebesar 6,9% dibandingkan triwulan IV-2005.  Apresiasi nilai tukar bersumber dari derasnya aliran modal masuk portfolio internasional ke pasar finansial domestik dan  menurunnya permintaan valas sejalan dengan melambatnya kegiatan ekonomi domestik. Kondisi pasar valas seperti ini membawa implikasi kebijakan.  Dalam jangka pendek,  mengingat besarnya dukungan aliran modal jangka pendek dalam menopang penguatan rupiah, maka upaya mengelola persepsi investor di pasar finansial menjadi penting untuk mencegah pembalikan modal secara tiba-tiba. Dalam jangka panjang, beberapa upaya perlu ditempuh agar kinerja neraca pembayaran didukung oleh perbaikan faktor fundamental yaitu ekspor yang semakin kompetitif dan iklim investasi yang lebih atraktif bagi masuknya FDI.

5.      Inflasi IHK pada triwulan I-2006 mencapai 15,74% (yoy) atau 1,98%(qtq), lebih rendah dari proyeksi semula terutama karena penundaan kenaikan TDL. Sementara itu, inflasi inti masih stabil di level yang tinggi yakni mencapai 9,64% (yoy) atau 1,63% (qtq) seiring belum membaiknya ekspektasi inflasi secara signifikan. Dalam triwulan I-2006, tekanan inflasi terutama bersumber dari inflasi kelompok volatile food pada dua bulan pertama terutama akibat penyesuaian HPP beras dan imported inflation walaupun dampak faktor ekternal tersebut terhadap IHK menjadi tidak terlalu besar karena pada saat yang bersamaan nilai tukar Rupiah mengalami penguatan secara signifikan. Sedangkan tekanan inflasi dari kesenjangan output masih belum signifikan karena ekspansi perekonomian domestik yang melambat, dan inflasi kelompok administered yang menurun terutama karena penundaan kenaikan TDL.

6.      Dari sisi perbankan,  kinerja perbankan mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan.  Jumlah kredit dan dana pihak ketiga (DPK) mengalami peningkatan walaupun belum seperti yang diharapkan. Namun demikian, beberapa risiko perlu dicermati seperti meningkatnya non-performing loans (NPLs), yaitu NPL gros meningkat dari 8,7% pada bulan Januari menjadi 9,3% pada bulan Februari (NPL net dari 5,1% menjadi 5,7%).   Ke depan, penyaluran kredit diperkirakan terus membaik sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan membaiknya stabilitas makroekonomi.

7.      Ke depan, walaupun terdapat optimisme yang lebih besar terhadap perbaikan kinerja ekonomi, berbagai risiko tetap harus diwaspadai.  Pertama, tingginya harga minyak dan berlanjutnya kebijakan moneter ketat global.  Kedua, permasalahan infrastuktur, khususnya prasarana transportasi di berbagai daerah perlu diantisipasi untuk mencegah kenaikan harga khususnya kelompok makanan (volatile foods). Ketiga, adanya berbagai kendala dalam penyaluran anggaran untuk belanja modal pemerintah dan  implementasi kebijakan pemerintah dalam perbaikan iklim investasi.

8.      Dengan mempertimbangkan semua perkembangan tersebut di atas dan masih adanya sejumlah faktor risiko yang dapat mengganggu kinerja ekonomi ke depan masih relatif tinggi, maka Rapat Dewan Gubernur memutuskan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, level BI Rate yang berlaku saat ini sebesar 12,75% perlu dipertahankan sampai stabilitas makroekonomi benar-benar terjaga, khususnya ekspektasi inflasi dan tekanan pembalikan arus modal.  BI melihat bahwa apabila kecenderungan perkembangan yang positif seperti dalam beberpaa bulan terakhir ini terus berlanjut maka kemungkina untuk menurunkan suku bunga secara bertahap dapat dilakukan lebih awal dari rencana semula. Kedua, mengingat masih tingginya ekses likuiditas yang belum dapat disalurkan ke sektor riil maka ketentuan GWM yang berlaku saat ini dipandang masih perlu untuk dipertahankan.

 

Jakarta, 5 April 2006
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Budi Mulya
Direktur


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: