KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Ruang Media > Siaran Pers
Siaran Pers
Judul Statement Kebijakan Moneter Oleh Gubernur Bank Indonesia
Sumber Data Biro Hubungan Masyarakat Tanggal4-10-2005 Hits4656
Contact Biro Humas, Telp : (62-21) 381-7317 Fax : (62-21) 350-1867, E-mail : humasbi@bi.go.id
Lampiran
No.7/94/PSHM/Humas

Pada hari ini, Selasa 4 Oktober 2005, Dewan Gubernur Bank Indonesia telah melakukan Rapat Dewan Gubernur Bulanan guna mengulas kondisi perekonomian terkini secara menyeluruh, prospek ke depan, dan respon kebijakan moneter.

Evaluasi Perekonomian Triwulan III-2005

Dalam triwulan III-2005 indikator-indikator perekonomian mengindikasikan aktivitas perekonomian nasional yang lebih rendah daripada perkiraan semula. Di sisi permintaan, indikator investasi, konsumsi swasta, dan ekspor menunjukkan kecenderungan menurun. Di sisi penawaran, penambahan kapasitas perkonomian terkendala oleh adanya beberapa masalah struktural. Kondisi ini menyebabkan kesenjangan output dalam perekonomian nasional menjadi semakin menyempit.

Dari sisi eksternal, neraca pembayaran juga menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan. Pada neraca modal, aliran modal masuk masih sangat terbatas sedangkan kewajiban pembayaran utang luar negeri cukup besar. Pada neraca transaksi berjalan, peningkatan impor jauh melebihi peningkatan ekspor.

Melemahnya kinerja neraca pembayaran telah memberikan tekanan secara terhadap nilai tukar rupiah. Di samping itu, tekanan nilai tukar juga bersumber dari penguatan dolar sejalan dengan masih berlanjutnya siklus pengetatan moneter di AS. Tekanan ini kemudian memicu perilaku ikutan (bandwagon effect) pada kelompok korporasi domestik dan nasabah individu sehingga menimbulkan tekanan pada rupiah yang semakin besar.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi pada akhir triwulan III-2005 mencapai 9,06% (y-o-y) atau lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Dari sisi suplai, tingginya realisasi inflasi IHK juga disebabkan oleh meningkatnya inflasi kelompok volatile food dan peningkatan ekspektasi inflasi sehubungan dengan rencana kenaikan harga BBM yang sudah menjadi wacana di masyarakat dalam bulan terakhir Triwulan III ini.

Di sektor keuangan, secara umum stabilitas sistem perbankan masih terjaga. Data terakhir menunjukkan bahwa NPL perbankan mencapai angka 5,0%(net) atau 8,9% (gross), sementara CAR perbankan sebesar 18,9%. Intermediasi perbankan juga secara konsisten menunjukkan kenaikan, yaitu mencapai 54,5%.  Namun demikian, berbagai perkembangan makroekonomi seperti kenaikan harga  BBM,  meningkatnya suku bunga, dan melemahnya nilai tukar mengharuskan perbankan untuk dapat mengantisipasi kinerjanya terutama kualitas kredit dan kondisi likuiditas.

Prospek dan Respon Kebijakan

Ke depan, pertumbuhan ekonomi 2005 dan 2006 diperkirakan akan sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, yaitu mencapai masing-masing 5,7% dan 5,9% atau sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5,9% dan 6,1%. Penurunan pertumbuhan ekonomi terutama berkaitan dengan kinerja investasi.  Selain itu, kinerja ekspor diperkirakan juga akan lebih rendah sejalan dengan lebih rendahnya volume perdagangan dunia dari perkiraan semula. Dengan demikian, kinerja neraca pembayaran juga diperkirakan masih belum membaik.

Di bidang harga, kenaikan harga BBM akan menjadi sumber tekanan inflasi ke depan. Dengan memperhitungkan dampak langsung maupun tidak langsung dari kenaikan harga BBM yang ditetapkan Pemerintah, Bank Indonesia memperkirakan tingkat inflasi IHK dalam beberapa bulan ke depan meningkat cukup signifikan. Tekanan inflasi juga diperkuat oleh faktor musiman terkait dengan hari besar keagamaan.

Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut dan prospek ekonomi moneter ke depan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk menaikan BI Rate sebesar 100 basis poin menjadi 11,0%. Kenaikan  BI Rate merupakan respon kebijakan BI untuk secara konsisten mengarahkan ekspektasi inflasi agar sesuai dengan pencapaian sasaran inflasi jangka menengah dan tetap mencerminkan tingkat suku bunga riil yang wajar.

Bank Indonesia memandang bahwa meningkatnya ekspektasi inflasi dan nilai tukar dapat meningkatkan risiko ketidakstabilan makroekonomi. Upaya menjaga kestabilan makroekonomi diperlukan untuk menjaga keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. 

Bank Indonesia juga akan senantiasa memperbaharui asesmen terhadap perekonomian dan melakukan penyesuaian kebijakan apabila diperlukan. Selain itu, Bank Indonesia akan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah untuk meminimalkan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM terhadap inflasi.
  

Jakarta, 4 Oktober 2005
Biro Hubungan Masyarakat
 
Rizal A. Djaafara
Kepala Biro


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: