No.11/35/PSHM/Humas
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia akhir tahun 2009, memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%. Setelah mengevaluasi kinerja perekenomian 2009 dan membahas propek ekonomi ke depan. Dewan Gubernur memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga BI Rate sebesar 300 bps telah cukup kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan. Tingkat BI Rate sebesar 6,50% tersebut juga dipandang masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5%±1%.
Dewan Gubernur berpandangan bahwa perekonomian Indonesia di tahun 2009 menunjukkan daya tahan yang cukup kuat dalam merespon krisis ekonomi global. Pelonggaran moneter dan stimulus fiskal untuk mendorong perekonomian domestik telah memperkuat keyakinan konsumen sehingga konsumsi rumah tangga masih dapat tumbuh pada tingkat yang cukup tinggi di 2009. Bank Indonesia berkeyakinan bahwa daya tahan perekonomian domestik ini seiring dengan terus pulihnya perekonomian dunia dan menguatnya keyakinan pelaku ekonomi merupakan landasan yang kuat bagi upaya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan. Untuk keseluruhan tahun 2009, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia dapat tumbuh sebesar 4,3%. Perekonomian Indonesia di tahun 2010 diperkirakan akan tumbuh mencapai kisaran 5,0-5,5% dan pada tahun 2011 menjadi 6,0-6,5%. Pertumbuhan yang lebih tinggi tersebut sejalan dengan tingkat pemulihan perekonomian dunia yang lebih baik, semakin kondusifnya pasar keuangan dan perbankan yang disertai dengan terjaganya kondisi fundamental domestik.
Di sisi harga, perekonomian Indonesia di tahun 2009 juga ditandai oleh tekanan inflasi yang rendah. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2009 tercatat mengalami deflasi 0,03% (mtm) atau secara tahunan tercatat sebesar 2,41% (yoy). Mencermati perkembangan tersebut, inflasi 2009 berpotensi lebih rendah dari sasaran inflasi Bank Indonesia 4,5±1%. Inflasi di tahun 2010 dan tahun 2011 diperkirakan dapat dikendalikan pada kisaran 5%±1%.
Di sektor keuangan, respon perbankan terhadap pelonggaran kebijakan moneter mengalami perbaikan, meski penurunan pada suku bunga kredit belum seperti yang diharapkan. Pertumbuhan kredit masih terbatas pada tahun 2009, namun pada tahun 2010 kredit diperkirakan tumbuh sebesar 15-20%, sejalan dengan meningkatnya keyakinan para pelaku ekonomi terhadap prospek pertumbuhan ekonomi. Likuiditas perbankan juga secara agregat masih akan mencukupi untuk kegiatan perbankan dalam pembiayaan perekonomian. Di sisi mikro, industri perbankan dalam kondisi stabil seperti tercermin dari masih tingginya tingkat kecukupan modal CAR sebesar 17,6% dan terjaganya NPL gross dibawah 5%. Dewan Gubernur optimis bahwa kondisi perbankan akan dapat terus terjaga dalam tahun 2010.
Ke depan, kebijakan moneter diarahkan untuk secara konsisten menjaga inflasi yang rendah dengan tetap memperhatikan upaya percepatan pemulihan ekonomi. Berbagai upaya akan dilakukan untuk meningkatkan efektifitas transmisi kebijakan moneter, termasuk melalui peningkatan efisiensi perbankan. Disamping itu, akan dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan struktural inflasi, khususnya yang bersumber dari administered prices dan volatile foods, dengan mengoptimalkan koordinasi bersama pemerintah pusat dan daerah.
Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2009 yang memuat perkembangan makroekonomi, kebijakan moneter, dan prospek 2010 dan 2011 dapat dilihat dalam Laporan Kebijakan Moneter (LKM).
Jakarta, 3 Desember 2009
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat
Dyah N.K. Makhijani
Direktur