No.8/42/PSHM/Humas
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini, 8 Agustus 2006, memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps atau turun dari 12,25% menjadi 11,75%. Keputusan tersebut diambil setelah memperhatikan masih terjaganya stabilitas makroekonomi Indonesia, berkurangnya faktor risiko eksternal, serta hasil berbagai survei dan prospek ekonomi moneter ke depan. Keputusan tersebut juga tetap memperhatikan upaya pencapaian sasaran inflasi ke depan yaitu 8%±1% untuk tahun 2006 dan 6%±1% untuk tahun 2007.
Secara umum, perkembangan perekonomian selama bulan Juli 2006 memberikan keyakinan bahwa stabilitas makroekonomi semakin menunjukkan penguatan. Hal itu tercermin dari laju Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi semula, nilai tukar rupiah yang menguat, dan credit rating Indonesia yang membaik. Namun demikian, berbagai indikator permintaan domestik mengindikasikan bahwa permintaan agregat masih belum sekuat yang diharapkan. Konsumsi rumah tangga membaik, meski belum terlalu kuat. Sementara, investasi belum menunjukkan kemajuan yang berarti.
Masih terbatasnya permintaan domestik dan membaiknya ekspektasi inflasi mendorong inflasi pada bulan Juli 2006 lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya. Inflasi Juli 2006 tercatat sebesar 0,45% (mtm), sehingga secara kumulatif Januari-Juli 2006 inflasi IHK baru mencapai 3,33%(ytd) dan secara tahunan sebesar 15,15% (yoy). Begitu pula, inflasi inti cukup stabil dan berada pada level 3,10% (ytd) dan 9,58% (yoy).
Sementara itu, nilai tukar rupiah sedikit menguat dengan volatilitas yang terjaga, didukung perbaikan rating Indonesia dan ekonomi global. Secara point to point nilai tukar Rupiah menguat 2,08% yakni dari Rp9.263 menjadi Rp9.070 per dolar AS dan secara rata-rata menguat 2,55% dari Rp9.370 pada Juni menjadi Rp9.131 per dolar AS di Juli 2006. Penguatan rupiah tersebut disebabkan oleh membaiknya faktor risiko seperti tercermin pada perbaikan credit rating Indonesia oleh S&P yang didasari oleh membaiknya kinerja kebijakan makro serta terjaganya kondisi fundamental. Kondisi tersebut didukung oleh sentimen eksternal yang positif berupa ekspektasi ditundanya kenaikan suku bunga the Fed pada 8 Agustus 2006.
Sementara itu, daya tahan perekonomian domestik terhadap gejolak kenaikan harga minyak dunia semakin menguat seperti ditunjukkan oleh surplus neraca perdagangan migas dan ketahanan fiskal paska kenaikan BBM. Berbagai perkembangan positif tersebut dengan cepat telah direspon oleh pasar keuangan dalam bentuk aliran masuk modal jangka pendek, mencapai USD1,1 miliar selama bulan Juli, dan selanjutnya menambah cadangan devisa Indonesia menjadi USD41,8 miliar pada minggu pertama Agustus 2006.
Penurunan BI Rate yang telah dilakukan pada bulan Mei dan Juli 2006 mulai berdampak positif pada suku bunga dana pihak ketiga dan suku bunga kredit meskipun dengan tingkat yang masih terbatas. Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan penyaluran kredit yang cukup tinggi pada bulan Juni, yaitu hampir Rp10 triliun sehingga menjadi Rp757,3 triliun pada akhir Juni 2006. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2005, kenaikan kredit perbankan baru mencapai Rp27,2 triliun atau tumbuh sebesar 3,72%. Dengan perkiraan membaiknya aktivitas ekonomi, kredit diharapkan tumbuh lebih cepat di sisa akhir tahun 2006. Optimisme ini, selain didukung oleh menurunnya suku bunga, juga didukung oleh menurunnya risiko kredit yang tercermin dari penurunan NPL dari 8,8% menjadi 8,7%.
Walaupun pembiayaan perbankan lebih rendah dari perkiraan, namun demikian, sumber pembiayaan non bank (saham, obligasi dan lembaga keuangan non bank) menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Selama semester I-2006 nilai emisi saham meningkat sebesar 7,4 triliun dan emisi obligasi meningkat Rp. 4,9 triliun. Dari eksternal, pembiayaan dari luar negeri kepada sektor swasta juga mengalami peningkatan sebesar USD705 juta pada bulan Juni 2006.
Ke depan, kegiatan ekonomi diharapkan meningkat pada Semester II yang didukung oleh semakin membaiknya kondisi ekonomi makro. Sejauh ini peningkatan tersebut belum akan berdampak pada harga-harga sehingga inflasi diperkirakan masih sesuai dengan sasarannya di tahun 2006 dan 2007. Faktor risiko eksternal berupa berlanjutnya kenaikan harga minyak dan pengetatan kebijakan moneter global akan senantiasa menjadi perhatian Bank Indonesia.
Dengan pertimbangan utama pada semakin meningkatnya stabilitas makro dan keyakinan pasar, serta berkurangnya risiko dari sisi eksternal, terutama lebih jelasnya arah suku bunga The Fed, Rapat Dewan Gubernur hari ini memutuskan untuk menurunkan BI rate sebesar 50 bps dari 12,25% menjadi 11,75%. Penurunan suku bunga ini diharapkan juga dapat mendorong kembali optimisme di sektor konsumen dan sektor usaha sehingga pada gilirannya dapat mendorong bergeraknya sektor riil tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan.
Jakarta, 8 Agustus 2006
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat
Budi Mulya
Direktur