KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Ruang Media > Siaran Pers
Siaran Pers
Judul Statement Kebijakan Moneter Oleh Gubernur Bank Indonesia
Sumber Data Biro Hubungan Masyarakat Tanggal1-11-2005 Hits4666
Contact Biro Humas, Telp : (62-21) 381-7317 Fax : (62-21) 350-1867, E-mail : humasbi@bi.go.id
Lampiran

No.7/ 98 /PSHM/Humas


Dewan Gubernur Bank Indonesia telah menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur Bulanan guna mengulas kondisi perekonomian terkini secara menyeluruh, prospek ke depan dan respon kebijakan moneter pada hari ini, Selasa 1 November 2005.   Dewan Gubernur berpandangan bahwa secara umum pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan  kinerja yang cukup baik meskipun terdapat indikasi perlambatan. Namun, tekanan inflasi meningkat tajam dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober 2005 paska kenaikan harga BBM. Ke depan, dengan mempertimbangkan upaya pengendalian inflasi jangka menengah panjang serta memelihara momentum pertumbuhan ekonomi, Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menaikkan BI rate sebesar 125 bps menjadi 12,25%.

Evaluasi Perekonomian sampai dengan Oktober 2005
Pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan kinerja yang cukup baik meskipun dibawah perkiraan semula. Berbagai indikator menunjukkan bahwa kegiatan investasi tetap tinggi dan kinerja ekspor terus menunjukkan perbaikan. Tingkat penggunaan kapasitas produksi juga terus meningkat. Sementara itu, kinerja neraca pembayaran sedikit membaik, terutama pada neraca modal, dan cadangan devisa meningkat mencapai USD32,6 milyar.
Pada bulan Oktober, inflasi meningkat secara signifikan sebagai akibat dari kenaikan harga BBM, beserta dampak lanjutannya seperti kenaikan tarif transportasi.  Tekanan inflasi yang tinggi tersebut semakin meningkat seiring dengan faktor musiman menyambut bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.  Laju inflasi untuk bulan Oktober 2005 sebesar 8,70% (m-t-m). Dengan perkembangan ini, laju inflasi periode Januari s.d Oktober 2005 adalah 15,65% (y-t-d).  Sementara itu, inflasi inti meskipun terdapat kecenderungan meningkat diperkirakan masih dalam kisaran 7-8%. Patut dikemukakan bahwa tekanan inflasi sebagai akibatnya tingginya harga minyak internasional juga dialami oleh sejumlah negara tetangga di kawasan, seperti Thailand, Malaysia dan India.
Nilai tukar rupiah bergerak dengan kecenderungan menguat, terutama disebabkan oleh peningkatan ‘interest rate differential’ pasca kenaikan BI Rate dan membaiknya indeks risiko. Selain itu, penguatan rupiah juga disumbang oleh peningkatan investasi portofolio oleh investor asing.  Kestabilan nilai tukar juga didorong oleh efektivitas pengelolaan likuiditas di pasar rupiah bahkan dalam beberapa hari mengalami kondisi yang cukup ketat sehingga tidak mendorong perilaku ‘currency switching’. Perkembangan tersebut mampu mengurangi dampak kecenderungan pelemahan mata uang regional terhadap USD sejalan dengan berlanjutnya siklus pengetatan moneter AS. 
Di tengah berbagai risiko di sektor keuangan, sektor perbankan secara umum masih mampu menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Fungsi intermediasi perbankan terus menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan kredit menunjukkan bahwa target yang telah ditetapkan untuk tahun 2005 sebesar 22% diperkirakan akan tercapai.  Sampai dengan September 2005, kredit yang disalurkan telah mencapai 20,2%. Dengan demikian, LDR menjadi 66,1%. Sementara itu, kredit yang disalurkan sektor UMKM meningkat cukup signifikan dan mencapai Rp 331,1 triliun atau 51% dari total kredit perbankan. Namun demikian, meningkatnya risiko kredit seiring dengan naiknya suku bunga dan risiko di sektor riil telah meningkatkan rasio NPL menjadi 8,76%. Ke depan, peningkatan risiko kredit ini perlu semakin diwaspadai oleh sektor perbankan.

Prospek dan Respon Kebijakan
Dalam dua bulan kedepan untuk menutup tahun 2005 ini, peningkatan kegiatan ekonomi diperkirakan berlanjut dengan pertumbuhan mencapai 5,5-6%.  Begitu pula dengan tekanan terhadap ketidakstabilan makroekonomi masih akan berlanjut.  Dalam jangka yang lebih panjang, yaitu sampai dengan 2006 nanti, dengan tingginya kenaikan inflasi yang telah mencapai puncaknya pada bulan Oktober serta memperhatikan perkembangan determinan inflasi, laju inflasi diperkirakan secara bertahap akan menurun kembali, dan pada akhir tahun 2006 diperkirakan akan mencapai kisaran 6,5-8,5%. 
Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut dan prospek ekonomi moneter ke depan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk menaikan BI Rate sebesar 125 basis poin menjadi 12,25%. Kenaikan BI Rate merupakan respon kebijakan BI untuk secara konsisten mengarahkan ekspektasi inflasi agar sesuai dengan pencapaian sasaran inflasi jangka menengah.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas pengendalian moneter, Bank Indonesia menyempunakan operasionalisasi kebijakan moneter melalui perpanjangan waktu buka (windows) untuk instrumen FASBI O/N dengan suku bunga ditetapkan sebesar 500 bp dibawah BI Rate.  Sementara itu, dalam rangka memberikan insentif kepada perbankan untuk tetap menjalankan fungsi intermediasinya, sejak 1 Desember 2005, Bank Indonesia akan meningkatkan renumerasi atas simpanan giro bank pada Bank Indonesia di atas GWM menjadi 6,5%.
Bank Indonesia juga akan senantiasa memperbaharui asesmen terhadap perekonomian dan melakukan penyesuaian kebijakan apabila diperlukan. Selain itu, Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus berkoordinasi untuk memelihara kestabilan makroekonomi dan mengendalikan inflasi sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.

Jakarta, 1 November 2005
BIRO HUBUNGAN MASYARAKAT


Rizal A. Djaafara
Kepala Biro


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: