No.11/3/PSHM/Humas
Setelah mencermati dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan situasi ekonomi dan keuangan di dalam negeri dan luar negeri, Dewan Gubernur Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 8,25 %.
Berbagai indikator mutakhir menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi global ternyata lebih suram daripada yang diperkirakan beberapa bulan yang lalu. Dampaknya makin terasa di dalam negeri, terutama sektor-sektor yang terkait dengan perdagangan luar negeri (sektor tradables). Sementara di sektor non-tradables perkembangannya relatif stabil.
Pertumbuhan kredit perbankan dan besaran-besaran moneter M1 dan M2 menunjukkan perlambatan dari laju pertumbuhan yang tinggi dalam semester II 2008. Tekanan inflasi terus mereda. Dalam dua bulan berturut-turut (Desember 2008 dan Januari 2009), IHK mengalami penurunan.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2009 tercatat sebesar USD 50,9 milyar atau setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
Kondisi perbankan nasional sampai saat ini mantap, seperti tercermin dari perkembangan CAR dan NPL perbankan yang tetap pada batas-batas yang aman. Sementara itu, kondisi likuiditas perbankan, termasuk aliran likuiditas dalam pasar uang antar bank, mulai mengalami perbaikan dibanding dengan beberapa bulan yang lalu.
Bank Indonesia akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk makin memperkuat sektor perbankan Indonesia, termasuk pengelolaan likuiditas yang diperlukan dan penyempurnaan mekanisme dan sistem pengawasan bank.
Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2009 yang memuat perkembangan moneter, inflasi dan nilai tukar akan dimuat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) Bank Indonesia yang dapat diakses melalui website Bank Indonesia <http://www.bi.go.id> pada tanggal 9 Februari 2009.
Jakarta, 4 Februari 2009
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat
Dyah N.K. Makhijani
Direktur