 |
 |
 |
| Judul
|
Juli 2005 |
| Sumber Data
|
Bagian Pengelolaan dan Pengembangan Data & Informasi, Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter |
Tanggal | 2-08-2005 |
Hits | 1226 |
| Contact
|
PPDI, Telp : (6221) 3818241, Fax : (6221) 3501951 |
| Lampiran
|
sek-07 (72 Kbytes) |  |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
“Indeks Keyakinan Konsumen Turun Menjadi Pesimis”
| Pada Juli 2005 Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mengalami penurunan pada kondisi pesimis, setelah Juni 2005 sempat berada pada kondisi yang optimis. Pesimisme tersebut seiring dengan keyakinan pada keberhasilan program ekonomi pemerintah yang menurun. Masalah kelangkaan BBM dan penanganan kasus flu burung diperkirakan mempengaruhi kondisi tersebut. |
Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juli 2005 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun 2,8 poin dari 101,7 menjadi 98,9, yang berarti terpuruk lagi ke kondisi pesimis (indeks di bawah 100). Kondisi optimis yang sempat dirasakan pada Juni 2005 (setelah selama tiga bulan sebelumnya berada pada kondisi pesimis akibat kenaikan harga BBM) ternyata tidak bertahan lama. Penurunan IKK tersebut tercermin pada penurunan kedua komponen IKK yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 87,2 menjadi 86,6 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 116,2 menjadi 111,2.
Kondisi pesimis konsumen tersebut disebabkan antara lain konsumen menilai bahwa penghasilan mereka relatif akan menurun dengan adanya penurunan omset usaha dan ketersediaan lapangan kerja yang diperkirakan menyempit karena memburuknya kondisi perekonomian.
| Grafik 1. Indeks Keyakinan Konsumen |
 |
Metodologi
Survei Konsumen merupakan survei bulanan yang dilaksanakan sejak Oktober 1999. Sejak Juli 2005 survei dilaksanakan terhadap kurang lebih 4.350 rumah tangga sebagai responden (purposive random sampling) di 16 kota : Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Bandar Lampung, Palembang, Banjarmasin, Padang, Pontianak, Samarinda, Manado, Denpasar, Mataram, dan Pangkal Pinang. Pengumpulan data dilakukan sebagian melalui wawancara telepon dan sebagian lagi secara langsung kepada responden secara rotated. Indeks dihitung dengan metode balance score (net balance + 100), sehingga jika indeks diatas 100 berarti optimis, sebaliknya dibawah 100 berarti pesimis. Sebagai catatan, khusus untuk indeks harga, suku bunga, dan pengangguran, indeks dibawah 100 yang berarti pesimis bermakna bahwa tingkat harga, suku bunga, dan pengangguran akan meningkat (perhitungan dibalik).
Ekspektasi Harga Pada Juli 2005, sebagian besar konsumen mempunyai ekspektasi akan terjadinya kenaikan harga secara umum (inflasi) pada 6 bulan yang akan datang dengan kecenderungan yang meningkat. Ekspektasi adanya kenaikan harga tersebut antara lain disebabkan oleh dampak kelangkaan BBM, ketersediaan barang/jasa yang menurun, dan situasi keamanan/sosial politik yang menjadi tidak stabil.
Dari seluruh responden yang disurvei, jumlah responden yang mempunyai ekspektasi harga akan naik (inflasi) pada 6 bulan yang akan datang sekitar 80,2% (pada Juni 2005 sebesar 74,6%). Sementara konsumen yang mempunyai ekspektasi sebaliknya hanya sekitar 2,3% (pada Juni 2005 sebesar 2,9%). Pada periode survei Juli 2005 ini, konsumen memperkirakan inflasi tertinggi akan terjadi pada kelompok makanan, diikuti oleh kelompok transportasi dan komunikasi, kelompok perumahan dan bahan bangunan, kelompok pendidikan, dan kelompok sandang.
| Grafik 2. Ekspektasi Harga |
 |
Ekspektasi Suku Bunga Berdasarkan hasil survei Juli 2005, suku bunga pada 6 bulan mendatang diperkirakan relatif stabil namun dengan kecenderungan menurun dibanding hasil survei pada Juni 2005. Dari seluruh responden yang disurvei, sebanyak 58,5% responden (pada Juni 2005 sebesar 58,1%) mempunyai ekspektasi bahwa suku bunga akan relatif stabil pada 6 bulan yang akan datang. Sementara itu, responden yang memperkirakan suku bunga relatif akan meningkat adalah sekitar 26,9% responden (pada Juni 2005 sebesar 29,0%), dan yang memperkirakan sebaliknya hanya sekitar 14,6% (pada Juni 2005 sebesar 12,9%).
| Grafik 3. Ekspektasi Suku Bunga |
 |
Ekspektasi Nilai Tukar Rupiah Hasil survei Juli 2005 mengindikasikan sebagian konsumen (35,4%) mempunyai ekspektasi nilai tukar Rupiah terhadap US dollar akan relatif stabil pada 6 bulan yang akan datang (pada Juni 2005 sebesar 46,7%). Sementara jumlah responden yang memperkirakan Rupiah akan menguat sebanyak 31,4% dan yang memperkirakan Rupiah akan melemah sebanyak 33,2%.
| Grafik 4. Ekspektasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar |
 |
Indikator lainnya
- Ketersediaan barang dan jasa
Menurut hasil survei Juli 2005, sebagian besar konsumen yang disurvei (50,4%) mempunyai ekspektasi terhadap ketersediaan barang dan jasa relatif stabil pada 6 bulan yang akan datang. Sementara yang memperkirakan persediaan meningkat sekitar 28,0% (pada Juni 2005 sebesar 32,0%), sedangkan yang memperkirakan sebaliknya hanya sekitar 21,6% (pada Juni 2005 sebesar 13,7%).
- Keberhasilan program ekonomi pemerintah
Hasil survei Juli 2005 menunjukkan bahwa: - sekitar 18,8% dari seluruh konsumen memperkirakan prospek program ekonomi pemerintah dipandang akan berhasil (pada Juni 2005 sebesar 21,4%), sementara yang memperkirakan belum berhasil atau gagal sekitar 13,4% (meningkat dibanding Juni 2005 sebesar 10,8%). - mayoritas konsumen (67,8%) memperkirakan program ekonomi pemerintah masih belum memberikan hasil yang diharapkan.
|
|
Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|