KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Publikasi > Kebijakan Moneter > Tinjauan Kebijakan Moneter
Kebijakan Moneter
Judul Tinjauan Kebijakan Moneter - Juni 2012
Sumber Data Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Tanggal12-06-2012 Hits2880
Contact  

Divisi Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan, Grup Kebijakan Moneter

Telepon: 021 - 3818119 / 3818385

E-mail: BKM_TOD@bi.go.id

Lampiran TKM Juni 2012 (749 Kbytes)

I. STATEMENT KEBIJAKAN MONETER

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 12 Juni 2012 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%. Tingkat suku bunga tersebut dinilai masih konsisten dengan prakiraan inflasi ke depan yang tetap rendah dan terkendali di dalam kisaran sasaran yang ditetapkan, yaitu 4,5% ± 1% pada tahun 2012 dan 2013. Untuk mengelola tekanan pelemahan nilai tukar dari memburuknya krisis di Eropa dan sentimen negatif pasar keuangan global, Bank Indonesia mendorong peningkatan pasokan valuta asing ke pasar agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan pergerakan nilai tukar kawasan Asia dan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Di samping menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar rupiah maupun pasar valuta asing, Bank Indonesia juga memperkuat operasi moneter dan pendalaman pasar keuangan, termasuk melalui pengembangan instrumen moneter valuta asing.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global, Dewan Gubernur meyakini daya tahan perekonomian domestik sejauh ini masih baik. Prospek perekonomian global masih dihadapkan pada krisis Eropa yang memburuk dan semakin tidak pasti, kondisi perekonomian AS yang masih rentan, serta pertumbuhan ekonomi China dan India yang diprakirakan melambat sebagai dampak krisis di Eropa. Dalam kondisi perekonomian global yang demikian, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2012 dan secara keseluruhan tahun 2012 diprakirakan masih dapat mencapai kisaran 6,3-6,7%, meskipun dengan risiko bias ke batas bawah kisaran. Sumber pertumbuhan terutama ditopang dari permintaan domestik baik konsumsi maupun investasi yang tetap kuat. Di sisi lain, sumber pertumbuhan dari eksternal diprakirakan menurun dengan melambatnya ekspor akibat melemahnya permintaan dunia dan penurunan harga komoditas global, sementara impor masih tumbuh cukup tinggi sejalan dengan kuatnya permintaan domestik.

Neraca Pembayaran Indonesia diprakirakan membaik pada triwulan II 2012, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, dengan kembali mencatat surplus. Di sisi transaksi berjalan, masih kuatnya impor di tengah melambatnya ekspor menyebabkan transaksi berjalan diprakirakan masih mengalami defisit meskipun dengan tingkat yang lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Di sisi lain, meskipun terdapat tekanan arus modal keluar akibat sentimen global, surplus transaksi modal dan finansial diprakirakan masih cukup tinggi untuk menutup defisit transaksi berjalan. Cadangan devisa sampai dengan akhir Mei 2012 mencapai 111,5 miliar dolar AS, atau setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Jumlah tersebut cukup untuk membiayai 6,4 bulan impor, jauh lebih tinggi dari threshold IMF sebesar 3-4 bulan impor.

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan depresiasi terkait dengan faktor eksternal. Pada Mei 2012, rupiah secara point-to-point melemah sebesar 2,23% (mtm) ke level Rp9.400 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,95% (mtm) menjadi Rp9.254 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah disebabkan oleh permintaan valuta asing yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan impor, utamanya impor BBM, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi pendapatan pihak asing, di tengah meningkatnya permintaan valas terkait portfolio rebalancing oleh pelaku nonresiden akibat adanya sentimen global sehubungan penyelesaian krisis di Eropa. Untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing, Bank Indonesia terus mengambil langkah-langkah untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar, antara lain didukung dengan penguatan operasi moneter melalui pengembangan instrumen moneter valuta asing seperti term deposit valuta asing, serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah untuk memitigasi dampak negatif dari risiko pemburukan ekonomi global. 

Perkembangan inflasi pada Mei 2012 tetap terkendali, dengan inflasi inti yang terus menurun. Inflasi IHK pada Mei 2012 tercatat 0,07% (mtm) sehingga secara tahunan tercatat sebesar 4,45% (yoy). Inflasi yang terkendali tersebut sejalan dengan inflasi inti yang terjaga pada level yang rendah (4,14%, yoy) seiring dengan penurunan harga komoditas global dan tetap terkendalinya permintaan domestik. Sementara itu, harga bahan pangan mengalami deflasi didukung pasokan yang memadai terkait dengan musim panen. Di sisi lain, tekanan dari administered prices masih minimal seiring dengan tidak adanya kebijakan Pemerintah di bidang harga komoditas barang dan jasa yang bersifat strategis. Ke depan, tekanan inflasi diprakirakan tetap terjaga dan diperkirakan tetap berada dalam kisaran sasarannya.

Stabilitas sistem perbankan tetap terjaga dan disertai dengan fungsi intermediasi yang meningkat dalam mendukung pembiayaan perekonomian. Industri perbankan menunjukkan kinerja yang baik sebagaimana tercermin pada meningkatnya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8% serta rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross yang terjaga di bawah 5%. Sementara itu, intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir April 2012 mencapai 25,7% (yoy). Kredit investasi tumbuh cukup tinggi, sebesar 28,8% (yoy), dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 27,7% (yoy) dan 20,5% (yoy).

Ke depan, Dewan Gubernur tetap fokus pada langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian ekspektasi inflasi. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Respon kebijakan suku bunga BI Rate tetap diarahkan untuk mengendalikan tekanan inflasi dari sisi fundamental sesuai prakiraan makroekonomi ke depan. Sementara itu penguatan operasi moneter dan kebijakan makroprudensial, termasuk dengan menjaga kecukupan likuiditas dan mendorong pendalaman pasar keuangan, ditujukan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menjaga ekspektasi inflasi. Koordinasi dengan Pemerintah  terus diperkuat baik dalam menjaga stabilitas sistem keuangan melalui Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) maupun dalam pengendalian inflasi melalui forum TPI maupun TPID.


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: