I. STATEMENT KEBIJAKAN MONETER
Perekonomian Indonesia sampai dengan Oktober 2009 terus menunjukkan perbaikan seiring dengan terus berlangsungnya pemulihan ekonomi global. Pemulihan ekonomi yang paling terlihat adalah di kawasan Asia, yang ditandai oleh terus bergeraknya ekonomi China sebagai motor pertumbuhan kawasan. Dengan faktor China tersebut, ekonomi kawasan Asia tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan wilayah lainnya. Di negara industri maju, pemulihan ekonomi tetap berlanjut didukung oleh stimulus fiskal yang diluncurkan Pemerintah. Meski demikian, proses pemulihan ekonomi di negara maju, khususnya di Amerika Serikat, masih dibayangi oleh berbagai faktor risiko, seperti tingginya tingkat pengangguran dan belum optimalnya perbaikan tingkat pendapatan.
Di pasar keuangan global, perkembangan positif terus terjadi seiring dengan berlangsungnya pemulihan ekonomi dan tetap terjaganya persepsi pelaku pasar uang. Indeks harga di pasar saham global masih meningkat, sementara persepsi risiko terhadap aset pasar keuangan, baik di negara maju maupun emerging markets, juga membaik, yang tercermin pada relatif stabilnya angka credit default swaps (CDS). Permasalahan keketatan likuiditas yang terjadi di pasar uang global, juga semakin mereda. Berlangsungnya pemulihan ekonomi global yang disertai kenaikan harga komoditas di pasar dunia yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi telah mendorong beberapa bank sentral untuk menahan penurunan suku bunga kebijakan. Di kawasan negara-negara emerging markets di Asia, pemulihan ekonomi yang lebih cepat diperkirakan mengubah stance kebijakan moneter untuk mengantisipasi meningkatnya tekanan inflasi. Namun, di negara maju, stance kebijakan moneter yang akomodatif diperkirakan masih dipertahankan sampai tahun depan mengingat masih tingginya tingkat pengangguran dan masih belum kuatnya pemulihan ekonomi. Dengan perkembangan ini, arus modal masuk ke negara-negara emerging diperkirakan masih berlangsung.
Di dalam negeri, berbagai perkembangan ekonomi global tersebut telah mendukung kinerja perekonomian Indonesia. Di sektor eksternal, membaiknya perekonomian kawasan regional serta tingkat perdagangan global yang didominasi oleh bahan baku dan peran intra-industri di kawasan Asia, mendorong peningkatan kinerja ekspor Indonesia. Di sektor domestik, pengeluaran konsumsi masyarakat yang tetap tumbuh tinggi yang didukung oleh optimisme masyarakat yang membaik dan terjaganya inflasi pada tingkat yang rendah tetap menjadi penopang utama pertumbuhan perekonomian Indonesia. Di sisi investasi, tingkat investasi diperkirakan dapat tumbuh lebih tinggi dari periode sebelumnya, ditopang oleh pengeluaran modal pemerintah dan optimisme meningkatnya permintaan. Hal ini tercermin pada konsumsi semen yang meningkat dan impor barang modal yang mulai pulih. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia pada triwulan IV-2009 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya.
Di sisi harga, inflasi selama Oktober 2009 mengalami penurunan atau lebih rendah dibandingkan dengan pola historisnya. Rendahnya tekanan inflasi selama Oktober 2009 tersebut ditopang oleh penguatan nilai tukar dan ekspektasi inflasi masyarakat yang menurun tercermin dari inflasi inti yang terus menurun dan mencapai angka terendah. Dengan perkembangan tersebut, inflasi selama tahun 2009 diperkirakan berada dalam kisaran bawah target inflasi 4,5±1% (yoy). Ke depan, inflasi tahun 2010 diperkirakan akan kembali ke pola normalnya dalam kisaran 5±1% seiring dengan kembali menguatnya aktivitas perekonomian domestik dan harga-harga komoditas.
Membaiknya kinerja ekspor dan aliran modal asing yang terus berlangsung berpotensi mendorong kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV-2009 yang diperkirakan tetap surplus. Perekonomian global yang semakin kuat mendukung perbaikan kinerja neraca transaksi berjalan. Neraca transaksi modal dan finansial juga diperkirakan surplus didukung oleh aliran masuk modal asing dalam bentuk portofolio yang terus berlangsung sejalan dengan membaiknya risk appetite terhadap aset emerging markets dan sentimen pelemahan dolar AS. Pembiayaan eksternal juga meningkat didukung oleh membaiknya ekspektasi terhadap ekonomi domestik dan membaiknya kondisi ekonomi global. Dengan berbagai perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir Oktober 2009 mencapai 64,5 miliar dolar AS. Membaiknya fundamental dari sektor eksternal ini berkontribusi pada penguatan nilai tukar rupiah selama bulan Oktober 2009.
Di sektor keuangan domestik, secara umum pasar keuangan menunjukkan perbaikan. Pulihnya kepercayaan investor mendorong aliran modal asing kembali masuk walaupun sempat mengalami koreksi di akhir periode. Di pasar obligasi, kepemilikan asing pada masih meningkat ditengah yield jangka pendek dan menengah yang sedikit meningkat. Di pasar saham, indeks sempat menguat tajam ke atas level 2.500 sebelum akhirnya mengalami koreksi akibat aksi profit taking dan terimbas gejolak di pasar keuangan global. Di pasar uang, likuiditas perbankan masih sangat memadai disertai dengan berkurangnya segmentasi di pasar uang. Transmisi kebijakan moneter di sektor keuangan juga terus berlanjut. Hal ini tercermin dari masih menurunnya suku bunga deposito dan kredit walaupun BI rate tidak mengalami perubahan sejak September 2009. Kredit di sektor-sektor yang beriorientasi domestik seperti kredit konsumsi tumbuh cukup tinggi, namun di sektor-sektor yang berorientasi ekspor pertumbuhan kredit masih sangat terbatas. Ke depan, transmisi kebijakan moneter ini diperkirakan terus membaik sejalan dengan membaiknya persepsi pelaku ekonomi di sektor riil dan perbankan terhadap perekonomian dan komitmen perbankan untuk menurunkan suku bunga.
Di sisi mikro perbankan, kondisi perbankan nasional tetap stabil. Hal itu diindikasikan oleh masih terjaganya rasio kecukupan modal (CAR) per September 2009 sebesar 17,7 %. Sementara itu, rasio gross Non Performing Loan (NPL) tetap terkendali pada 4,3 % dengan rasio net sebesar 1,3 %. Likuiditas Perbankan, termasuk likuiditas dalam pasar uang antar bank makin membaik dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat.
Dengan mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5% ±1% dan arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 4 November 2009 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%.