Asesmen Ekonomi
Kinerja perekonomian Nusa Tenggara Barat sepanjang triwulan IV 2009 diperkirakan mampu tumbuh positif mencapai 7,11% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 4,34%, namun sedikit menurun dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,67%. Sedangkan apabila sektor pertambangan dikeluarkan dari komponen estimasi, maka pertumbuhan ekonomi menjadi sebesar 5,09%. Sehingga sepanjang tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat diperkirakan tumbuh sebesar 5,26% (yoy), meningkat dibanding tahun 2008 yang tumbuh mencapai 2,36%. Sedangkan tanpa sektor pertambangan maka pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang tahun 2009 tercatat menjadi 6,95%.
Dari sisi permintaan, perbaikan kinerja pada seluruh komponen permintaan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama perekonomian NTB seiring dengan peningkatan indeks keyakinan konsumen dan pertumbuhan penyaluran kredit konsumtif. Kegiatan investasi sepanjang triwulan laporan juga menunjukkan peningkatan aktivitas yang dikonfirmasi pertumbuhan pengunaan konsumsi semen. Sementara itu, perkembangan perdagangan luar negeri NTB terus mengalami perbaikan sejalan dengan peningkatan kinerja sektor pertambangan menyusul pulihnya permintaan global akan konsentrat tembaga dan kecenderungan peningkatan harga komoditas tersebut di pasar internasional.
Dari sisi penawaran, sektor pertambangan dan perdagangan, hotel & restoran (PHR) menjadi sumber pertumbuhan perekonomian Nusa Tenggara Barat. Pertumbuhan positif pada sektor pertambangan bersumber dari pulihnya permintaan dunia akan komoditas konsentrat tembaga sehingga meningkatkan kinerja sektor ini. Sementara itu, sektor PHR tampil sebagai penyumbang kedua terbesar pertumbuhan ekonomi yang dipengaruhi oleh peningkatan kinerja sub sektor hotel dan restoran seiring dengan kegiatan liburan akhir tahun.
Di sisi tenaga kerja, pemberangkatan TKI ke luar negeri mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibanding triwulan sebelumnya. Dari sisi kesejahteraan, daya beli petani masih menunjukkan angka dibawah level normal, namun mengalami peningkatan dibanding angka pada triwulan IV 2008.
Di sisi keuangan daerah, perbaikan kinerja ditunjukkan pada realisasi penerimaan pendapatan maupun perkembangan realisasi anggaran belanja daerah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tingkat realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTB mencapai 95,21% dari target PAD pada tahun 2009. Sedangkan realisasi anggaran belanja pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat mencapai kisaran 92,02%.
Asesmen Inflasi
Laju inflasi Nusa Tenggara Barat sepanjang tahun 2009 cenderung mengalami penurunan dibanding periode 2008. Hingga akhir triwulan IV 2009 laju inflasi NTB tercatat sebesar 3,34% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai angka sebesar 13,29% (yoy). Namun, laju inflasi tersebut sedikit lebih tinggi dibanding laju inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,78% (yoy).
Hingga akhir triwulan laporan, laju inflasi secara tahun kalender di NTB mencapai 3,34% (ytd). Berdasarkan data BPS pada kedua kota yang dipantau dalam perhitungan inflasi di NTB. Kota Bima tercatat mengalami laju inflasi tertinggi yang mencapai 4,09% (ytd) sedangkan pada kota Mataram laju inflasi tercatat hanya sebesar 3,14% (ytd).
Kecenderungan penurunan laju inflasi NTB dipengaruhi ketersediaan stok bahan makanan NTB menyusul kegiatan panen raya padi yang berlangsung pada triwulan II 2009 dan tidak adanya kebijakan kenaikkan harga oleh pemerintah, terutama pada komoditas bahan bakar minyak yang sangat sensitif terhadap perkembangan harga barang dan jasa.
Secara triwulanan, perkembangan harga yang terjadi di Nusa Tenggara Barat pada triwulan laporan mengalami deflasi sebesar 0,36% (qtq) setelah pada triwulan sebelumnya mengalami inflasi mencapai 3,27% (qtq). Berdasarkan kelompok barang dan jasa, sepanjang triwulan laporan kelompok sandang mengalami peningkatan harga tertinggi. Sedangkan penurunan harga terbesar dialami oleh kelompok perumahan, air, gas dan bahan bakar. Laju inflasi bulanan (mtm) tertinggi pada triwulan laporan terjadi di bulan Desember sebesar 0,56%, sementara pada bulan Oktober dan November mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,56% dan 0,37%.
Asesmen Intermediasi Perbankan
Seiring dengan perkembangan pertumbuhan perekonomian di Nusa Tenggara Barat, aktivitas intermediasi perbankan Nusa Tenggara Barat sepanjang triwulan IV 2009 turut menunjukkan kinerja positif. Hal ini terlihat dari laju pertumbuhan indikator perbankan yang mengalami peningkatan, baik pada jumlah penyaluran pembiayaan kepada masyarakat maupun jumlah dana masyarakat yang berhasil dihimpun oleh perbankan di Nusa Tenggara Barat.
Hingga akhir triwulan IV 2009, outstanding kredit yang berhasil disalurkan kepada masyarakat mencapai Rp7,73 triliun atau tumbuh sebesar 21,74% (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp6,35 triliun. Sementara itu, jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun dari masyarakat mengalami peningkatan mencapai Rp7,45 triliun atau tumbuh sebesar 12,10% (yoy), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp6,65 triliun.
Terjadinya laju pertumbuhan pada penyaluran kredit yang lebih tajam dibanding pertumbuhan DPK pada triwulan laporan mendorong terjadinya peningkatan Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan NTB menjadi 103,67% dimana pada triwulan lalu mencapai 101,21%. Seiring dengan meningkatnya penyaluran dana, kualitas kredit perbankan NTB turut mengalami perbaikan. Hal ini ditunjukkan oleh menurunnya rasio Non Performing Loans (NPL) menjadi 2,63%, lebih rendah dibanding posisi triwulan lalu yang tercatat sebesar 3,20%.
Prospek Ekonomi
Prospek perekonomian Nusa Tenggara Barat sepanjang tahun 2010 diperkirakan mampu tumbuh positif pada kisaran 5,5%-6,5% (yoy) melebihi pertumbuhan tahun 2009. Secara sektoral, pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh kinerja sektor-sektor andalan yaitu sektor pertanian, pertambangan dan perdagangan, hotel & restoran. Dari sisi permintaan, kegiatan konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen utama penggerak ekonomi NTB. Sedangkan kegiatan perdagangan luar negeri diproyeksikan tumbuh searah dengan peningkatan kegiatan pada sektor pertambangan. Seiring dengan perkembangan kegiatan investasi, konsumsi belanja pemerintah diperkirakan tumbuh positif yang tercermin dari peningkatan jumlah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah NTB Tahun 2010 sebesar 13,54%.
Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit perbankan diprediksi tumbuh sebesar 22%-23% hingga akhir tahun 2009. Hal tersebut, sejalan dengan hasil Survei Opini Pejabat Perbankan yang mengindikasikan membaiknya ekspektasi penyaluran kredit perbankan baik dari sisi permintaan maupun realisasi kredit baru serta penghimpunan Dana Pihak Ketiga.
Pada triwulan I 2010, pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat diprediksi mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi mencapai kisaran 8,5%-9,5% (yoy). Tingginya laju pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh peningkatan kinerja sektor pertambangan yang mengalami rebound setelah pada tahun lalu sektor ini mengalami kontraksi pertumbuhan yang cukup dalam. Adanya Pergeseran pola tanam padi di Nusa Tenggara Barat akibat dampak dari mundurnya musim hujan (El Nino) dan tren peningkatan luas lahan pertanian diprediksi meningkatkan kegiatan sektor pertanian. Sedangkan peningkatan pendapatan masyarakat di awal tahun 2010 diyakini meningkatkan kegiatan konsumsi yang turut mendorong kinerja sektor PHR yang turut dikonfirmasi oleh optimisme kalangan dunia usaha Nusa Tenggara Barat yang ditunjukkan oleh peningkatan pada indeks ekspektasi situasi bisnis. Dari sisi permintaan, sumber utama pertumbuhan ekonomi diperkirakan didorong oleh peningkatan kinerja pada komponen ekspor selaras dengan pertumbuhan sektor pertambangan. Sedangkan kinerja konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat sejalan dengan indeks keyakinan konsumen yang menunjukkan keoptimisan. Sementara kegiatan konsumsi belanja pemerintah diperkirakan mampu tumbuh positif searah dengan perkembangan kegiatan investasi yang menunjukkan peningkatan aktivitas menyusul percepatan pengerjaan pembangunan sarana infrastruktur yaitu Bandara Internasional Lombok dan PLTU Jeranjang yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2010.
Prospek Inflasi
Sejalan dengan menggeliatnya perekonomian Nusa Tenggara Barat, laju inflasi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2010 diperkirakan bergerak stabil di kisaran 4,5% ± 0,5% (yoy). Pergerakan harga komoditas kelompok bahan makanan akan sangat dipengaruhi kelancaran kegiatan produksi di sektor pertanian. Dengan asumsi, ancaman ketidakstabilan cuaca dapat dimitigasi, terjaganya tingkat ketersediaan pupuk dan tidak adanya gangguan hama serta ketersediaan benih yang berkualitas maka diyakini tekanan inflasi dari komoditas bahan makanan akan relatif minimal. Dari sisi administered price, adanya kebijakan pemerintah pusat dalam mempertahankan tingkat tarif dasar listrik dan BBM menjadi faktor yang menahan laju inflasi pada tahun 2010. Di sisi lain, siklus musim panen tembakau yang biasanya terjadi pada triwulan III diperkirakan menjadi faktor pendorong inflasi yang bersumber dari peningkatan harga minyak tanah. Risiko tekanan inflasi dari komoditas tersebut harus diantisipasi sejak dini oleh pemda dengan perangkat kerja terkait melalui percepatan konversi oven tembakau ke bahan bakar lainnya seperti batu bara ataupun gas. Selain itu adanya kegiatan pemilihan kepala sejumlah daerah pada tahun 2010 diperkirakan turut menjadi faktor pemicu laju inflasi.
Tekanan inflasi pada triwulan I-2010, inflasi tahunan Nusa Tenggara Barat diperkirakan berada pada kisaran 4%-5% (yoy). Pergerakan harga komoditas utama di kelompok volatile foods yaitu beras yang mengalami kenaikkan sejak Desember 2009 diperkirakan menjadi sumber tekanan laju inflasi di triwulan I 2010 sebagai akibat dampak kenaikkan harga pokok pembelian (HPP) beras. Sementara pengaruh musiman yaitu cuaca buruk yang diperkirakan masih terjadi hingga pertengahan Februari 2010 dapat mengakibatkan terhambatnya aktivitas distribusi bahan makanan serta menyebabkan terganggunya produksi hasil pertanian khususnya pada komoditas cabe rawit dan bawang merah sehingga menekan harga sub kelompok bumbu-bumbuan. Selain itu, tekanan inflasi turut dipengaruhi oleh penurunan stok gula nasional menyusul berakhirnya masa giling tebu menyebabkan meningkatnya harga gula di daerah. Sementara itu, tekanan inflasi yang berasal dari ekspektasi masyarakat juga menunjukkan adanya kenaikkan harga pada triwulan I 2010.