KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Publikasi > Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional
Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional
Judul Triwulan IV/2011
Sumber Data Biro Hubungan dan Studi Internasional, Direktorat Internasional Tanggal29-02-2012 Hits2678
Contact BHSI, Telp : (6221) 3818229, (6221) 3818250, Fax : (6221) 3452917
Lampiran PEKKI Triwulan IV/2011 (7369 Kbytes)

Ekonomi dunia yang masih dalam proses pemulihan pascakrisis global 2008 kini terpukul krisis utang yang semakin mendera Kawasan Euro. Dengan akar krisis yang bersifat struktural dan tingginya ketidakpastian akibat upaya recovery yang berlarut-larut, krisis utang di negara negara periferal Kawasan Euro kini mulai menjalar ke negara-negara core kawasan seperti Jerman dan Perancis melalui kenaikan yield obligasi, proses bank deleveraging, dan dampak konsolidasi fiskal negara-negara kawasan. Ketidakpastian di pasar keuangan global yang ditimbulkannya dan perlambatan ekonomi kawasan ini selanjutnya tidak hanya menekan ekonomi negara-negara maju yang memang masih rentan namun juga mulai berdampak pada kinerja ekonomi negara-negara emerging yang tadinya diyakini imun dari krisis Eropa.

Akar krisis utang Kawasan Euro yang bersifat struktural sebagian merupakan imbas dari pembentukan monetary union itu sendiri. Kestabilan dan kredibilitas yang diperoleh monetary union telah melahirkan insentif yang salah, yaitu ketika sovereign debts dapat diterbitkan dengan sangat mudah oleh negara-negara yang berdaya saing rendah dan memiliki masalah stuktural ekonomi. Keterikatan dengan kawasan juga membuat negara-negara yang secara struktural tidak sehat tersebut kehilangan kemampuan untuk melakukan langkah penyesuaian baik sebelum maupun selama krisis.

Perkembangan yang tidak kalah menarik, di tengah krisis utang Kawasan Euro dan pemangkasan rating sovereign sejumlah negara kawasan tersebut, Indonesia justru memperoleh kembali peringkat investment grade dari lembaga rating internasional Fitch setelah 14 tahun menanti dan bekerja keras. Peningkatan rating itu menunjukkan bahwa meskipun krisis ekonomi dan keuangan tengah menghantam negara-negara maju dan emerging, ketahanan fundamental ekonomi Indonesia masih dapat dipertahankan. Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan juga tetap terjaga. Namun, meski berdampak positif pada penurunan biaya dana bagi pemerintah dan swasta Indonesia, Pemerintah dan swasta Indonesia harus senantiasa melakukan pengelolaan utang luar negeri secara berhati-hati dan menghindari keterlenaan (complacency) yang ditengarai justru menjadi akar krisis utang di Kawasan Euro dewasa ini.


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: