Indonesia
merupakan negara kepulauan yang sebagian besar luas wilayahnya merupakan
perairan. Ikan merupakan salah satu hasil perikanan yang banyak
dihasilkan di Indonesia dan merupakan sumber protein hewani yang
banyak dikonsumsi masyarakat. Ikan mudah didapat dengan harga yang
relatif murah sehingga dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Kandungan protein yang tinggi pada ikan dan kadar lemak yang rendah
sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia.
Tabel
1.1. Komposisi Ikan Segar per 100 gram Bahan
|
Komponen |
Kadar (%) |
| Kandungan air
Protein
Lemak
Mineral dan Vitamin |
76,00
17,00
4,50
2,52-4,50 |
Sumber:
www.ristek.go.id
Karena
manfaat yang tinggi tersebut banyak orang mengkonsumsi ikan baik
berupa daging ikan segar maupun makanan-makanan yang merupakan hasil
olahan dari ikan. Bahkan di Jepang dan Taiwan ikan merupakan makanan
utama dalam lauk sehari-hari.
Ikan merupakan produk yang banyak dihasilkan oleh alam dan diperoleh
dalam jumlah melimpah. Akan tetapi ikan juga merupakan bahan makanan
yang cepat mengalami proses pembusukan dikarenakan kadar air yang
tinggi. Kadar air yang tinggi adalah kondisi yang memberikan kesempatan
bagi perkembangbiakan bakteri secara cepat. Kelemahan-kelemahan
yang dimiliki ikan dirasakan menghambat usaha pemasaran hasil perikanan
dan tidak jarang menimbulkan kerugian besar, terutama pada saat
produksi ikan melimpah. Karena itulah sejak dahulu masyarakat telah
berusaha melakukan berbagai cara pengawetan ikan agar dapat dimanfaatkan
lebih lama. Proses pengolahan dan pengawetan ikan merupakan bagian
penting dari mata rantai industri perikanan. Tanpa adanya proses
tersebut, usaha peningkatan produksi perikanan akan menjadi sia-sia
karena tidak bisa dimanfaatkan dengan baik.
Pada dasarnya usaha pengawetan ini adalah untuk mengurangi kadar
air yang tinggi di tubuh ikan. Terdapat bermacam-macam usaha pengawetan
ikan dari usaha tradisional sampai usaha modern. Usaha pengawetan
ikan dilakukan melalui penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan,
peragian, dan pendinginan ikan. Hasil dari usaha-usaha pengawetan
tersebut sangat tergantung pada proses pengawetannya. Untuk mendapatkan
mutu terbaik dari proses pengawetan ikan dapat dilakukan dengan
menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan, termasuk ikan
yang benar-benar masih segar dan garam yang bersih. Usaha pengawetan
ikan tidak hanya sebatas pada pengolahan menjadi produk yang masih
berbentuk ikan tetapi juga pengolahan menjadi bentuk lain setelah
dicampur dengan bahan-bahan lain.
Ikan hasil pengolahan dan pengawetan umumnya sangat disukai oleh
masyarakat karena produk akhirnya mempunyai ciri-ciri khusus yakni
perubahan sifat-sifat daging seperti bau (odour), rasa (flavour),
bentuk (appearance) dan tekstur.
Salah satu makanan hasil olahan dari ikan adalah kerupuk ikan. Produk
makanan kering dengan bahan baku ikan dicampur dengan tepung tapioka
ini sangat digemari masyarakat. Makanan ini sering digunakan sebagai
pelengkap ketika bersantap ataupun sebagai makanan ringan. Bahkan
untuk jenis makanan khas tertentu selalu dilengkapi dengan kerupuk.
Makanan ini menjadi kegemaran masyarakat dikarenakan rasanya yang
enak, gurih dan ringan. Selain rasa yang enak tersebut, kerupuk
ikan juga memiliki kandungan zat-zat kimia yang diperlukan oleh
tubuh manusia. Komposisi zat-zat kimia dalam kerupuk disajikan dalam
Tabel 1.2. berikut:
Tabel 1.2. Komposisi Kerupuk Ikan dan Udang (per 100 gram)
|
Komponen |
Kerupuk Ikan |
Kerupuk Udang |
| Karbohidrat (%) |
65,6 |
68,0 |
| Air (%) |
16,6 |
12,0 |
| Protein (%) |
16 |
17,2 |
| Lemak (%) |
0,4 |
0,6 |
| Kalsium (mg/100 gram) |
2,0 |
332,0 |
| Fosfor (mg/100 gram) |
20,0 |
337,0 |
| Besi (mg/100 gram) |
0,1 |
1,7 |
| Vitamin A (mg) |
0 |
50,0 |
| Vitamin B1 (mg) |
- |
0,04 |
Sumber:
www.ristek.go.id
Dari
Tabel 1.1 dan Tabel 1.2 dapat dilihat bahwa kandungan protein ikan
segar dan kerupuk ikan tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa
kandungan protein pada ikan tidak banyak yang hilang setelah mengalami
pengolahan. Jika dibandingkan dengan kerupuk udang, kandungan vitamin
dan mineral pada kerupuk ikan lebih rendah.
Proses pembuatan kerupuk ikan sangatlah sederhana dan mudah diusahakan.
Industri ini banyak berkembang di wilayah-wilayah perairan dengan
produksi ikan tinggi. Di samping dapat diusahakan dengan peralatan
modern, usaha ini juga dapat dijalankan dengan peralatan tradisional.
Oleh sebab itulah usaha kerupuk ikan banyak dilakukan oleh rumah
tangga yang merupakan industri mikro.
Dari segi skala perusahaan, usaha pengolahan kerupuk ikan dilakukan
oleh perusahaan besar-menengah dan juga perusahaan kecil rumah tangga.
Perbedaan utama dari skala usaha tersebut adalah pada teknologi
dan pangsa pasarnya. Perusahaan besar-menengah dalam proses produksinya
menggunakan peralatan dengan teknologi modern dengan pangsa pasar
tersebar baik di daerah lokal maupun daerah lain bahkan ekspor.
Berbeda dengan perusahaan skala besar-menengah, usaha pengolahan
kerupuk kecil rumah tangga sebagian besar menggunakan peralatan
dengan teknologi yang sederhana dan pangsa pasar yang masih terbatas
pada pasar lokal.
Usaha pengolahan kerupuk ikan banyak tersebar di wilayah Indonesia
diantaranya adalah Kepulauan Belitung, Jawa Timur dan Kalimantan.
Di Jawa Timur sendiri, hasil olahan perikanan merupakan salah satu
produk andalan dengan salah satu wilayah sentra produksinya di Kabupaten
Sidoarjo. Sebagai salah satu daerah dengan hasil perikanan yang
cukup tinggi, Sidoarjo memiliki potensi yang sangat besar dalam
pengembangan usaha-usaha pengolahan produk perikanan. Hasil olahan
produk perikanan yang terkenal dari Sidoarjo diantaranya adalah
kerupuk udang, kerupuk ikan, petis serta bandeng presto. Meskipun
industri pengolahan hasil perikanan tersebar di wilayah Sidoarjo,
pada kecamatan tertentu memiliki sentra industri yang menghasilkan
produk spesifik. Industri kerupuk misalnya banyak berkembang di
kecamatan Candi, Tulangan, Jabon dan Prambon.
Tabel
1.3. Sentra Industri Kerupuk Ikan di Sidoarjo
|
Kecamatan |
Lokasi |
Pemasaran |
| Tulangan |
Desa Selasih |
Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan |
| Jabon |
Desa Kedung Rejo |
Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan |
| Desa Kedung Pandan |
USA, Jepang, Taiwan, Hongkong,
Arab Saudi |
| Prambon |
Desa Jati Kalang |
- |
Sumber:
www.sidoarjo.go.id
Penyusunan pola pembiayaan usaha pengolahan kerupuk ikan ini didasarkan
pada informasi dari studi lapangan yang dilakukan di wilayah kabupaten
Sidoarjo. Survey dilakukan pada industri pengolahan kerupuk ikan
yang merupakan industri kecil rumah tangga. Industri-industri ini
pada dasarnya tidak hanya memproduksi kerupuk ikan saja tetapi juga
kerupuk jenis lain seperti kerupuk udang dan kerupuk dengan bahan
baku tepung lainnya.
Dilihat dari aspek ekonomis, usaha kerupuk ikan merupakan bisnis
yang sangat menguntungkan. Peluang pasar dalam negeri maupun ekspor
untuk komoditi ini masih sangat terbuka. Hal ini dikarenakan kerupuk
ikan merupakan konsumsi sehari-hari masyarakat sehingga permintaan
untuk kerupuk ikan relatif stabil bahkan cenderung mengalami kenaikan.
Selain mampu meningkatkan pendapatan bagi pengusaha, usaha ini juga
mampu membantu meningkatkan pendapatan penduduk sekitar yang akhirnya
berpengaruh pada perekonomian daerah.
Dilihat dari aspek sosial, usaha kerupuk ikan mempunyai dampak sosial
yang positif. Industri kecil rumah tangga ini mampu menyerap tenaga
kerja dari lingkungan sekitar. Secara tidak langsung ini merupakan
upaya penciptaan lapangan kerja yang mengurangi jumlah pengangguran
di suatu wilayah. Dilihat dari sisi dampak lingkungan, usaha kerupuk
ikan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah yang dihasilkan
dari usaha ini hanyalah air sisa pembersihan yang tidak mengandung
zat-zat kimia dan langsung meresap ke dalam tanah.
|