Bank Indonesia Mempertahankan Suku Bunga Kebijakan: Menjaga Momentum Pemulihan di tengah Perbaikan Ekonomi Global - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
20 Januari 2018

No. 19/95/DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 13-14 Desember 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap sebesar 4,25%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,50% dan Lending Facility tetap sebesar 5,00%, berlaku efektif sejak 15 Desember 2017. Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik dengan tetap mempertimbangkan dinamika perekonomian global maupun domestik. Bank Indonesia memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh sebelumnya telah memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik di tengah stabilitas makroekonomi yang semakin baik. Ke depan, Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari global terkait normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju dan risiko geopolitik, maupun dari dalam negeri terutama terkait konsolidasi korporasi yang terus berlanjut dan intermediasi perbankan yang belum kuat. Bank Indonesia akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama Pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank Indonesia memandang bahwa di tengah berlangsungnya perbaikan ekonomi global dan terjaganya stabilitas perekonomian domestik terbuka peluang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih kuat dan berkelanjutan melalui penguatan pelaksanaan reformasi struktural.

Pemulihan ekonomi global terus berlanjut secara lebih merata diikuti dengan tetap tingginya harga komoditas. Pertumbuhan ekonomi global 2017 diperkirakan lebih kuat dibandingkan 2016 dengan sumber pertumbuhan yang lebih merata, baik dari negara maju maupun negara berkembang. Pertumbuhan PDB AS membaik ditopang investasi yang meningkat dan konsumsi yang stabil. Sejalan dengan AS, ekonomi Eropa pulih cukup solid ditopang konsumsi dan ekspor. Perekonomian Tiongkok juga membaik didukung konsumsi dan ekspor di tengah kebijakan rebalancing yang ditempuh secara gradual. Perkembangan ini selanjutnya mendorong volume perdagangan dunia dan harga komoditas global, termasuk minyak, yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, kenaikan suku bunga FFR di AS sebesar 25 bps pada 13 Desember 2017 sesuai dengan perkiraan Bank Indonesia. Ke depan, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan tetap tinggi disertai dengan harga komoditas dan volume perdagangan yang tetap kuat. Namun demikian, sejumlah risiko terhadap perekonomian global tetap perlu diwaspadai, antara lain normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju dan faktor geopolitik.

Pemulihan ekonomi Indonesia berlangsung gradual dan belum merata. Pertumbuhan ekonomi 2017 diperkirakan sekitar 5,10% (yoy), dibandingkan 5,02% (yoy) pada 2016. Pertumbuhan ekonomi didukung oleh peningkatan ekspor komoditas yang selanjutnya mendorong peningkatan investasi nonbangunan, khususnya pada korporasi yang berbasis komoditas. Stimulus fiskal oleh pemerintah terkait pembangunan proyek infrastruktur juga mendorong investasi bangunan. Di sisi lain, investasi pada sektor-sektor nonkomoditas belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Konsumsi rumah tangga masih tumbuh terbatas khususnya pada belanja makanan dan pakaian disertai pergeseran pola konsumsi ke leisure, serta terjadi preferensi untuk menunda konsumsi pada masyarakat golongan menengah atas. Pada 2018, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan membaik bersumber dari lebih meratanya investasi, berlanjutnya stimulus fiskal Pemerintah, dan meningkatnya ekspor sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2018 diperkirakan meningkat pada kisaran 5,1-5,5%.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2017 diperkirakan mencatat surplus yang relatif besar dengan defisit transaksi berjalan yang terkendali di bawah 2,0% dari PDB. Besarnya surplus NPI terutama ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang meningkat dibandingkan 2016, khususnya dalam bentuk investasi langsung dan investasi portofolio sejalan dengan membaiknya persepsi investor terhadap prospek perekonomian domestik. Di sisi lain, defisit transaksi berjalan terkendali, terutama didukung oleh kenaikan surplus nonmigas, di tengah defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer yang masih cukup besar, antara lain terkait defisit jasa transportasi dan pembayaran repatriasi hasil investasi asing. Posisi cadangan devisa Indonesia akhir November 2017 tercatat sebesar 125,97 miliar dolar AS, meningkat dari 116,36 miliar dolar AS pada akhir 2016. Cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,4 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, defisit transaksi berjalan pada 2018 diperkirakan masih tetap terkendali dalam batas yang aman meskipun meningkat menjadi 2,0-2,5% dari PDB, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik.

Rupiah cenderung stabil pada 2017 meski sempat mengalami tekanan yang bersumber dari eksternal pada awal triwulan IV 2017. Nilai tukar rupiah bergerak stabil hingga September dan melemah pada bulan Oktober dipengaruhi faktor eksternal. Pelemahan Rupiah tersebut sejalan dengan pelemahan nilai tukar hampir seluruh mata uang dunia terhadap dolar AS seiring normalisasi kebijakan moneter, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, dan rencana reformasi pajak di AS. Pada November, Rupiah kembali menguat seiring dengan stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga dan prospek perekonomian yang tetap baik sehingga secara point-to-point (ptp) Rupiah menguat sebesar 0,27% (mtm) ke level Rp13.526 per dolar AS. Ke depan, Bank Indonesia tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Inflasi 2017 terjaga tetap rendah sekitar 3,5% (yoy) dan berada dalam kisaran sasaran inflasi 4±1%. Terkendalinya inflasi terutama disumbang oleh rendahnya inflasi volatile food ditopang oleh pasokan yang memadai, kebijakan stabilisasi harga pangan oleh Pemerintah, dan harga pangan global yang rendah. Inflasi volatile food tersebut merupakan yang terendah dalam 14 tahun terakhir. Inflasi inti juga menurun sejalan dengan ekspektasi yang terjangkar, nilai tukar yang stabil, dan terbatasnya permintaan domestik. Sementara itu, inflasi administered prices meningkat terutama karena kenaikan tarif listrik 900 VA pada paruh pertama tahun 2017, sebagai bagian dari reformasi subsidi energi. Pada November 2017, inflasi IHK tercatat sebesar 0,20% (mtm) sehingga secara kumulatif (Januari - November) dan tahunan masing-masing mencapai 2,87% (ytd) dan 3,30% (yoy). Ke depan, inflasi 2018 diperkirakan akan tetap terkendali pada level yang rendah dalam kisaran sasaran 3,5±1%. Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama Pemerintah Pusat dan Daerah dalam rangka pengendalian inflasi.

Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di tengah intermediasi perbankan yang belum kuat. Terjaganya stabilitas sistem keuangan tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan yang cukup tinggi pada level 23,2% dan rasio likuiditas (AL/DPK) pada level 22,7% pada Oktober 2017. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) berada pada level 2,96% (gross) atau 1,25% (net). Transmisi pelonggaran kebijakan moneter melalui jalur suku bunga terus berlangsung, tercermin dari berlanjutnya penurunan suku bunga deposito dan suku bunga kredit. Namun, transmisi melalui jalur kredit masih belum optimal, terlihat dari pertumbuhan kredit yang masih terbatas sejalan dengan permintaan kredit yang belum tinggi dan perilaku bank yang masih selektif dalam memberikan kredit baru. Pertumbuhan kredit Oktober 2017 tercatat masih sebesar 8,16% (yoy), meski membaik dibandingkan September sebesar 7,86% (yoy). Namun demikian, pembiayaan ekonomi melalui pasar keuangan, seperti penerbitan saham, obligasi, dan medium term notes (MTN), terus tumbuh tinggi hingga mencapai 45,5% (yoy) pada Oktober 2017. Sementara itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Oktober 2017 tercatat 11,0% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya 11,7% (yoy). Untuk keseluruhan 2017, DPK dan kredit diperkirakan tumbuh masing-masing sekitar 9,0% (yoy) dan 8,0% (yoy). Sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan dampak pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya serta progres program konsolidasi korporasi dan perbankan yang ditempuh, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan DPK dan kredit akan lebih baik, masing-masing dalam kisaran 9,0-11,0% (yoy) dan 10,0-12,0% (yoy) pada 2018.

Jakarta, 14 Desember 2017
DEPARTEMEN KOMUNIKASI

Agusman
Direktur Eksekutif

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel