BI 7-Day Reverse Repo Rate Tetap 4,75% Stabilitas Terjaga dan Ekonomi Tumbuh Membaik - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
20 November 2017

No. 19/14/DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14 dan 16 Februari 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendukung momentum pemulihan ekonomi domestik. Sejalan dengan membaiknya perekonomian global, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan membaik dengan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang tetap terjaga. Meskipun demikian, Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari global terutama terkait arah kebijakan AS dan risiko geopolitik di Eropa, maupun dari dalam negeri terutama terkait dengan dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi. Untuk itu, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Selanjutnya, Bank Indonesia akan terus melakukan penguatan koordinasi dengan Pemerintah dengan fokus pada pengendalian inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran dan kelanjutan reformasi struktural untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Perekonomian dunia membaik, terutama didukung oleh AS dan Tiongkok, diikuti dengan harga komoditas global yang terus meningkat. Perbaikan ekonomi AS diperkirakan terus berlanjut didukung oleh konsumsi dan investasi yang meningkat. Perekonomian Tiongkok diperkirakan tetap tumbuh cukup kuat sejalan dengan proses rebalancing ekonomi yang berlangsung secara gradual. Sementara itu, harga komoditas dunia, termasuk harga minyak dan komoditas ekspor Indonesia, menunjukkan peningkatan. Namun, sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai. Rencana ekspansi kebijakan fiskal pemerintah AS ditengah sinyal pengetatan kebijakan moneter dapat mendorong penguatan mata uang AS dan penyesuaian suku bunga yang lebih cepat. Rencana relaksasi regulasi sektor keuangan di AS, meskipun dapat mendorong aktivitas keuangan di negara itu, dapat meningkatkan risiko stabilitas sistem keuangan global. Demikian pula, kecenderungan kebijakan proteksionis perdagangan AS, disetujuinya “Hard Brexit” oleh Parlemen Inggris serta risiko geopolitik di Eropa dapat menurunkan volume perdagangan dunia dan menambah ketidakpastian global.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 meningkat didukung oleh masih kuatnya konsumsi rumah tangga, serta perbaikan ekspor dan kinerja investasi. Perekonomian tercatat tumbuh sebesar 5,02% (yoy), membaik dibandingkan dengan tahun 2015 yang tumbuh sebesar 4,88% (yoy). Konsumsi rumah tangga tumbuh cukup kuat didukung oleh terjaganya daya beli seiring dengan inflasi yang terkendali. Kinerja ekspor menunjukkan perbaikan ditopang meningkatnya volume perdagangan dunia serta harga beberapa komoditas seperti batubara dan minyak sawit. Perbaikan kinerja investasi terutama didorong oleh pertumbuhan investasi nonbangunan dalam bentuk kendaraan dan peralatan lainnya, sementara investasi bangunan melambat sejalan dengan lebih rendahnya ekspansi fiskal. Dari sisi spasial, pertumbuhan ekonomi di Sumatera dan Jawa mengalami peningkatan, sementara Kawasan Timur Indonesia (KTI) melambat. Ke depan, pertumbuhan ekonomi 2017 diperkirakan berada pada kisaran 5,0-5,4% (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi swasta yang masih tumbuh kuat, peningkatan konsumsi pemerintah serta perbaikan investasi baik swasta maupun pemerintah. Pertumbuhan ekspor diperkirakan juga mengalami peningkatan, yang diiringi dengan impor sejalan dengan kenaikan permintaan domestik.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2016 mencatat surplus sebesar 4,5 miliar dolar AS didukung oleh defisit transaksi berjalan (TB) yang menurun dan surplus Transaksi Modal dan Finansial (TMF) yang cukup besar. Defisit TB Triwulan IV 2016 tercatat sebesar 1,8 miliar dolar AS (0,8% PDB), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,7 miliar dolar AS (1,9% PDB), ditopang oleh perbaikan kinerja neraca perdagangan barang dan pendapatan primer. Surplus neraca perdagangan barang meningkat didorong oleh ekspor yang membaik seiring dengan perbaikan ekonomi negara-negara mitra dagang dan naiknya harga komoditas global. Di sisi lain, TMF mencatat surplus 6,8 miliar dolar AS, terutama bersumber dari surplus investasi lainnya sejalan dengan berlanjutnya repatriasi dana tax amnesty. Untuk keseluruhan tahun, kinerja NPI 2016 mencatat surplus sebesar 12,1 miliar dolar AS, membaik secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat defisit 1,1 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2016 tercatat 116,4 miliar dolar AS. Cadangan devisa kembali meningkat pada Januari 2017 menjadi 116,9 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,7 bulan impor atau 8,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Setelah mengalami tekanan pada triwulan IV 2016, nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil dengan kecenderungan menguat di tengah peningkatan ketidakpastian terkait arah kebijakan AS. Pada triwulan IV 2016, secara point to point rupiah melemah sebesar 3,13% menjadi Rp13.473 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah antara lain berasal dari meningkatnya ketidakpastian global terkait Pilpres AS, kenaikan FFR dan meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri pada akhir tahun. Namun, rupiah kembali menguat sebesar 0,9% menjadi Rp13.352 pada bulan Januari 2017. Penguatan ini seiring dengan aliran modal asing yang kembali masuk ditopang oleh persepsi positif investor terhadap perekonomian domestik. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai perkembangan risiko ketidakpastian keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar agar sesuai fundamental dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Inflasi tetap terkendali, meskipun mengalami tekanan yang meningkat di awal tahun 2017. Inflasi IHK Januari 2017 tercatat sebesar 0,97% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,42% (mtm). Kenaikan inflasi tersebut terutama disumbang oleh kelompok administered prices dan kelompok inti. Sementara itu, inflasi volatile food relatif terkendali dan tercatat rendah sejalan dengan koreksi harga beberapa komoditas pangan. Inflasi administered prices meningkat dari bulan sebelumnya terutama didorong oleh kenaikan biaya administrasi perpanjangan STNK, tarif listrik, dan Bahan Bakar Khusus (BBK). Inflasi inti mengalami peningkatan namun masih terkendali yaitu sebesar 0,56% (mtm) atau 3,35% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi terutama dalam menghadapi sejumlah risiko terkait penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah dan risiko kenaikan harga volatile food. Dengan langkah-langkah tersebut, inflasi 2017 diprakirakan akan tetap berada pada sasaran 4±1%.

Kondisi sistem keuangan tetap stabil didukung oleh ketahanan industri perbankan dan stabilitas pasar keuangan yang terjaga. Pada Desember 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 22,7%, dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 20,9%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,9% (gross) atau 1,2% (net). Selama periode Januari-Desember 2016, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial telah dapat menurunkan suku bunga deposito 122 bps dan suku bunga kredit sebesar 79 bps. Berdasarkan jenis kreditnya, suku bunga kredit modal kerja turun 110 bps, suku bunga kredit investasi turun 91 bps dan suku bunga kredit konsumsi turun 29 bps. Pertumbuhan kredit Desember 2016 tercatat sebesar 7,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 10,5% (yoy). Hal ini lebih disebabkan oleh masih rendahnya permintaan kredit sejalan dengan konsolidasi yang dilakukan oleh korporasi dan masih lambatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Selanjutnya, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Desember 2016 tercatat sebesar 9,6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,3% (yoy) yang didorong dana repatriasi tax amnesty yang tinggi di akhir 2016. Sementara itu, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, seperti penerbitan saham (IPO dan right issue), obligasi korporasi, dan medium term notes (MTN) terus mengalami peningkatan. Ke depan, sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan dampak pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya, pertumbuhan kredit dan DPK pada tahun 2017 diperkirakan lebih baik, masing-masing dalam kisaran 10-12% dan 9-11%.

Jakarta, 16 Februari 2017
Departemen Komunikasi

Tirta Segara
Direktur Eksekutif

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel