BI 7-day Reverse Repo Rate Tetap 4,75%<br /> BI Merespons Ketidakpastian Eksternal di tengah Ekonomi Domestik yang Stabil - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
20 November 2017

No. 18/94/DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 November 2016 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%. Kebijakan tersebut sejalan dengan kehati-hatian Bank Indonesia dalam merespons meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global pasca pemilihan umum (Pemilu) di AS, di tengah stabilitas makroekonomi dalam negeri yang tetap terjaga sebagaimana tercermin pada inflasi yang rendah dan defisit transaksi berjalan yang terkendali. Bank Indonesia akan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar. Bank Indonesia juga memandang pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama Pemerintah untuk menjaga kecukupan likuiditas, memperkuat stimulus pertumbuhan, dan memastikan pelaksanaan reformasi struktural berjalan dengan baik, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pemulihan ekonomi global diperkirakan masih berlangsung lambat, namun harga komoditas mulai membaik. Di tengah ketidakpastian perekonomian global yang meningkat pasca Pemilu AS, perekonomian AS menunjukkan perbaikan sebagaimana tercermin dari PDB yang membaik, tingkat pengangguran yang stabil dan inflasi yang cenderung meningkat. Sejalan dengan perkembangan tersebut, peluang kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada bulan Desember 2016 semakin menguat. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi di negara maju lainnya, seperti Uni Eropa, cenderung masih terbatas dan dibayangi oleh risiko politik. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi negara berkembang seperti India dan Tiongkok diperkirakan masih menjadi pendorong ekonomi global. Di pasar komoditas, harga minyak dunia masih pada level yang rendah, sejalan dengan masih tingginya produksi minyak OPEC. Sementara itu, sejumlah harga komoditas ekspor Indonesia terus mengalami perbaikan, seperti minyak kelapa sawit, batubara, dan beberapa barang tambang lainnya. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan dalam masa transisi pemerintahan AS serta kebijakan yang akan ditempuh di AS, terutama terkait dengan kebijakan fiskal, suku bunga dan perdagangan internasional.

Perekonomian nasional tetap menunjukkan kinerja yang positif didorong oleh permintaan domestik yang masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi triwulan III-2016 mencapai 5,02% (yoy), terutama didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh cukup kuat. Di sisi investasi, pertumbuhan investasi bangunan relatif baik didukung oleh berlanjutnya pembangunan proyek infrastruktur Pemerintah. Sementara itu, peran investasi swasta khususnya non-bangunan masih relatif rendah, di tengah konsumsi Pemerintah yang tumbuh negatif seiring dengan kebijakan konsolidasi fiskal. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di Jawa dan Sumatera masih tumbuh cukup kuat, disertai dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sejalan dengan meningkatnya ekspor tambang dan telah beroperasinya smelter barang tambang. Di sisi sektoral, sektor industri, pertanian serta perdagangan masih tumbuh positif. Pada triwulan IV 2016, perekonomian diperkirakan tumbuh terbatas sejalan dengan fiskal yang masih konsolidatif, sehingga secara keseluruhan tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sekitar 5,0%. Ke depan, ekspansi perekonomian diperkirakan akan terus berlanjut dan berada di kisaran 5,0%-5,4% pada 2017.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan III 2016 mencatat peningkatan surplus, ditopang oleh menurunnya defisit transaksi berjalan dan meningkatnya surplus transaksi modal dan finansial. Surplus NPI tercatat sebesar 5,7 miliar dolar AS, meningkat signifikan dibandingkan dengan surplus sebesar 2,2 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya. Perkembangan ini menunjukkan semakin baiknya keseimbangan eksternal perekonomian dan turut menopang berlanjutnya stabilitas makroekonomi. Defisit transaksi berjalan menurun dari 5,0 miliar dolar AS (2,2% PDB) pada triwulan II 2016 menjadi 4,5 miliar dolar AS (1,8% PDB) pada triwulan III 2016. Penurunan tersebut ditopang oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas sejalan dengan meningkatnya harga ekspor komoditas primer dan menurunnya impor nonmigas, serta menyempitnya defisit neraca perdagangan migas seiring dengan meningkatnya ekspor gas. Selain itu, defisit neraca jasa juga menurun terutama karena surplus neraca jasa perjalanan yang meningkat pada triwulan laporan. Sementara itu, surplus transaksi modal dan finansial terus meningkat dari sebesar 7,6 miliar dolar AS pada triwulan II 2016 menjadi sebesar 9,4 miliar dolar AS pada triwulan III 2016, didukung oleh sentimen positif terhadap prospek perekonomian domestik. Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2016 tercatat sebesar 115,0 miliar dolar AS atau setara dengan 8,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Penguatan Rupiah terus berlanjut pada triwulan III 2016 didukung sentimen positif dari domestik dan eksternal, namun tertahan pada November pasca Pemilu AS. Selama triwulan III 2016 nilai tukar Rupiah, secara rata-rata, menguat sebesar 1,39% dan mencapai level Rp 13.130 per dolar AS. Penguatan nilai tukar rupiah terus berlanjut di bulan Oktober 2016 sebesar 0,71% dan ditutup di level Rp13.048 per dolar AS. Penguatan rupiah didukung oleh sentimen positif perekonomian domestik, seiring dengan kondisi stabilitas makroekonomi yang terjaga dan implementasi UU Pengampunan Pajak yang berjalan dengan baik. Dari sisi eksternal, penguatan rupiah terkait dengan meredanya risiko global, sejalan dengan semakin jelasnya arah kebijakan The Fed terkait FFR. Namun sejak awal November hingga 16 November 2016, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,53% menjadi Rp13.378 per dolar AS akibat meningkatnya ketidakpastian perekonomian global pasca Pemilu AS. Meski demikian, tekanan depresiasi yang terjadi pada rupiah relatif terbatas dibandingkan dengan tekanan yang terjadi pada mata uang negara emerging lainnya. Secara year to date (ytd) nilai tukar rupiah masih menguat 2,97%. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Inflasi tetap terkendali dan pada akhir tahun diperkirakan sekitar 3,0-3,2% atau berada di batas bawah kisaran sasaran inflasi 2016, yaitu 4±1%. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Oktober 2016 mencatat inflasi sebesar 0,14%(mtm) atau 3,31% (yoy). Inflasi terutama bersumber dari inflasi komponen administered prices (AP) didorong kenaikan tarif listrik, harga bahan bakar rumah tangga, tarif kereta api dan harga rokok. Sementara itu, inflasi komponen inti tercatat rendah sebesar 0,10% (mtm) atau 3,08% (yoy), sejalan dengan masih terbatasnya permintaan domestik, terkendalinya ekspektasi inflasi, dan menguatnya nilai tukar rupiah. Di sisi lain, kelompok volatile food (VF) tercatat mengalami deflasi yang berasal dari koreksi harga komoditas beberapa bahan pangan. Ke depan, koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus dilakukan, dengan fokus pada upaya menjamin pasokan dan distribusi, khususnya berbagai bahan kebutuhan pokok, dan menjaga ekspektasi inflasi.

Sistem keuangan tetap stabil dengan ketahanan sistem perbankan yang terjaga. Pada akhir Triwulan III 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 22,3%, dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 20,2%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 3,1% (gross) atau 1,4% (net). Transmisi pelonggaran kebijakan moneter melalui jalur suku bunga sampai dengan September terus berlangsung, tercermin dari berlanjutnya penurunan suku bunga deposito sebesar 108 bps (ytd) dan suku bunga kredit sebesar 60 bps (ytd). Namun demikian, transmisi melalui jalur kredit belum optimal, terlihat dari pertumbuhan kredit yang masih terbatas sejalan dengan permintaan yang masih lemah, termasuk untuk kebutuhan investasi dari korporasi. Pertumbuhan kredit triwulan III 2016 sebesar 6,5% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 7,9% (yoy). Sementara itu, jalur transmisi melalui pasar modal, seperti penerbitan saham, obligasi, dan medium term notes (MTN), mengalami peningkatan. Selanjutnya, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan III 2016 sebesar 3,2% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,9% (yoy). Perlambatan ini diperkirakan bersifat sementara terkait dengan pemenuhan kewajiban dalam rangka implementasi UU Pengampunan Pajak dan diperkirakan akan kembali meningkat pada akhir tahun. Bank Indonesia meyakini transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial akan terus berlanjut dan mendorong peningkatan pertumbuhan kredit dan pembiayaan ekonomi lainnya guna menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ke depan.

Jakarta, 17 November 2016
DEPARTEMEN KOMUNIKASI

Arbonas Hutabarat
Direktur

 

​Video Terkait
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel