FAQ - Bank Sentral Republik Indonesia
18 Desember 2017
Home   >    FAQ   >    Moneter

FAQ Moneter



1.  Q:  Berapakah laju inflasi yang dikehendaki oleh BI?
A:  Dalam jangka menengah dan panjang, laju inflasi diharapkan dapat ditekan sekitar 5%. Dalam jangka pendek, angka inflasi dipertahankan dibawah single digit. Namun demikian, berbagai kebijakan penyesuaian harga barang yang dikendalikan pemerintah dapat memberikan tekanan inflasi secara signifikan.
2.  Q:  Apakah BI akan mengumumkan angka-angka inflasi tersebut kepada masyarakat?
A:  Dalam Pasal 58 Undang-undang BI yang baru tersebut diatas disebutkan bahwa BI wajib menyampaikan informasi kepada masyarakat secara terbuka melalui media massa pada setiap awal tahun anggaran yang antara lain memuat rencana kebijakan dan penetapan sasaran-sasaran laju inflasi serta perkembangan kondisi ekonomi dan keuangan. Pengumuman target dan sasaran moneter tersebut mengandung makna yang penting dalam rangka transparansi dan menunjukkan komitmen BI terhadap pengendalian laju inflasi. Bagi masyarakat, target dan sasaran moneter tersebut dapat menjadi arah mengenai kondisi perekonomian di masa mendatang sehingga mereka dapat melakukan perencanaan kegiatan ekonominya dengan lebih baik. Atas dasar hal tersebut maka BI akan mengumumkan sasaran inflasi untuk jangka waktu antara 2 - 3 tahun ke depan. Sasaran tersebut akan diumumkan dalam suatu range (band) dengan titik tengah tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodasi kemungkinan terjadinya random shocks (tekanan-tekanan dari sisi penawaran yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya), seperti kelangkaan semen, lonjakan harga cabe.
3.  Q:  Apakah tekanan terhadap angka inflasi hanya berasal dari dalam negeri saja?
A:  Dilihat dari asalnya, tekanan inflasi dapat dibedakan atas domestic pressures (berasal dari dalam negeri) dan external pressures (berasal dari luar negeri). Tekanan yang berasal dari dalam negeri dapat diakibatkan oleh adanya gangguan dari sisi penawaran dan permintaan serta kebijakan yang diambil oleh instansi lain di luar BI, misalnya kebijakan penghapusan subsidi pemerintah, kenaikan pajak, dll. Gangguan dari sisi penawaran dapat timbul apabila terjadi musim kering yang mengakibatkan gagal panen, terjadinya bencana alam, gangguan distribusi tidak lancar dan adanya kerusuhan-kerusuhan sosial yang berakibat terputusnya pasokan dari luar daerah. Gangguan dari sisi permintaan dapat terjadi apabila otoritas moneter menerapkan kebijakan uang longgar.
4.  Q:  Inflasi mana yang akan dipakai BI dalam menetapkan targetnya?
A:  BI menetapkan IHK sebagai targetnya, seperti yang diterapkan di semua negara yang menganut sistem target inflasi secara eksplisit. Ada beberapa alasan yang mendasari dipilihnya IHK sebagai target bank sentral, baik dari sisi teoritis maupun dari segi kepraktisannya. Kelebihan digunakannya IHK ini antara lain adalah merupakan alat ukur yang paling tepat dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat karena IHK mengukur indeks biaya hidup konsumen. Seperti yang berlaku pada negara-negara lain institusi yang bertugas mengumpulkan data statistik selalu memfokuskan sebagian besar sumber dayanya untuk menghasilkan data IHK yang reliable dibandingkan indeks harga lainnya, sehingga hasil pengukuran IHK selalu memiliki kualitas yang lebih baik dan selalu tersedia secara tepat waktu
5.  Q:  Dapatkan dijelaskan mengenai konsep inflasi inti (core inflation)?
A:  Berdasarkan pengertiannya, ada 2 konsep dalam pengertian inflasi inti. Pertama, inflasi inti sebagai komponen inflasi yang cenderung 'menetap' atau persisten (persistent component) di dalam setiap pergerakan laju inflasi. Kedua, inflasi inti sebagai kecenderungan perubahan harga-harga secara umum (generalized component). Core inflation pada beberapa literatur disebut juga dengan underlying inflation. Inflasi inti inilah yang dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh BI. Di dalam operasionalnya, BI tidak menggunakan inflasi IHK sebagai acuan dalam mengambil kebijakan moneter, namun menggunakan inflasi inti. Penggunaan inflasi inti sebagai sasaran operasional dikarenakan inflasi inti dapat memberikan signal yang tepat dalam memformulasikan kebijakan moneter. Sebagai contoh, dalam hal terjadi gangguan permintaan (demand shock) yang mengakibatkan inflasi tinggi, respon bank sentral akan mengetatkan uang beredar sehingga tingkat inflasi dapat ditekan. Disamping itu, kebijakan tersebut dapat juga untuk menyesuaikan kembali pertumbuhan ekonomi pada tingkat yang sesuai dengan kapasitas perekonomian. Sebaliknya, jika inflasi meningkat karena terjadinya gangguan penurunan di sisi penawaran (supply side), misalnya kenaikan harga makanan karena musim kering maka kebijakan uang ketat justru dapat memperburuk tingkat harga dan pertumbuhan ekonomi. Respon yang dapat dilakukan oleh bank sentral adalah kebijakan melonggarkan likuiditas perkonomian justru diperlukan untuk menstimulir peningkatan penawaran.
1 2 

Show Left Panel